Hidup Rukun dengan Semua Orang

Ibrani 12:12-17

 Kita adalah persekutuan dan bukan perkumpulan.  Bersekutu sudah pasti berkumpul namun berkumpul belum tentu bersekutu.  Oleh karena itu nama baru kita adalah ‘persekutuan orang percaya’.  Laki-laki dan perempuan yang bukan hanya sekedar berkumpul, namun bersekutu.  Bersekutu bukan hanya karena kita satu jenis yaitu ‘homo sapiens’, namun oleh karena kita telah dipersekutukan Allah dengan diri-Nya melalui penebusan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.  Namun dalam persekutuan ini, kita tidak hanya merayakan penebusan tersebut, namun kita terus menerus mencoba menghayati dan menghidupkan penebusan itu dalam kehidupan setiap hari.  Dalam persekutuan itulah kita mampu menciptakan kerukunan dengan semua orang.  Sudah pasti kita akan sama-sama mengaminkan bahwa persekutuan kita adalah demonstrasi dari kehidupan yang rukun dengan semua orang.  Kita saling menyapa ‘syalom’ dalam genggaman tangan yang erat, kita saling mengunjungi untuk menguatkan satu dengan lainnya, kita saling mendoakan supaya terpelihara kehidupan spiritual kita, kita bertumbuh melalui pendengaran dan pemberitaan firman agar kita tau bagaimana menjalani kehidupan yang lebih berkenan kepada Tuhan, dan kita kembali ke dalam keluarga kita masing-masing dengan membawa berkat dari Tuhan.  Itu semua hanya akan tercipta dan terwujud apabila kita mengalami hidup rukun dalam persekutuan ini.

Namun demikian, setelah sekian lama kita bersekutu: mengalami pasang surut, berganti sistem, ada yang datang dan ada yang pergi, hingga secara literal dipandang perlu untuk dihayati kembali makna persekutuan kita.  Pertanyaan penting yang masih perlu dan relevan untuk dipikirkan adalah:  mengapa dan bagaimana kita mengalami dan mewujudkan hidup rukun dalam persekutuan kita ini?  Tentu saja pertama-tama dari kelompok kecil hingga dalam persekutuan gereja kita.  Perenungan ini akan menolong kita menemukan jawabannya.

Kerukunan hanya dihasilkan melalui persekutuan.  Mungkin kata-kata ini kedengarannya klise semata, namun apabila kita merenungkannya dalam konteks penerima surat Ibrani maka kita akan menemukan betapa sulit pelaksanaannya.  Penerima surat ini  adalah para orang-orang Ibrani (secara lahiriah disebut Israel oleh karena dilahirkan dari benih Yakub, yang mewarisi hukum Musa sebagai hukum Tuhan dan hidup dalam bahasa serta budaya Ibrani).  Mereka pertama-tama hidup dalam tradisi Torah (hukum-hukum Perjanjian Lama), selanjutnya mereka mempercayai dan menanti pengharapan hadirnya Mesias yang akan menyelamatkan mereka, serta menjadi pengikut Kristus oleh karena kasih karunia dalam iman yang mereka terima melalui kesaksian langsung dari para murid Yesus.  Namun demikian, keadaan menjadi sulit oleh karena mereka hidup bersama-sama dengan orang-orang lain yang juga menerima kasih karunia oleh karena percaya kepada Kristus sebagai Mesias oleh kesaksian para murid Yesus.  Kenapa dikatakan keadaan menjadi sulit?  Oleh karena orang-orang lain itu adalah orang-orang yang memang sama sekali asing bagi mereka: bukan hanya bahasa dan budaya, tetapi juga kepercayaan hidup yang lama.  Orang-orang Ibrani ini ‘dipaksa’ Allah untuk hidup rukun dengan orang Bar-bar yang kanibal; orang Yunani yang suka berpesta-pora bahkan melakukan seks secara menjijikan; orang-orang Romawi yang lebih menekankan pada hal-hal lahiriah dari pada hal-hal spiritual; orang-orang Mesir yang menyembah binatang dan menyukai sihir, dan lain sebaginya.  Hidup rukun oleh karena Allah mengasihi bani Israel sama seperti Ia mengasihi orang Bar-bar, Yunani, Romawi, Mesir yang telah percaya kepada-Nya dan mengalami penebusan dalam Kristus oleh karena kesaksian para murid Yesus.

Memang ada beberapa dari antara orang-orang Ibrani ini yang kemudian merasa unggul karena mereka terlahir sebagai umat Israel, oleh karena itu pada pasal-pasal sebelumnya dari kitab ini kita temukan kecaman dari penulis terhadap apa yang menjadi asaz-asaz kepercayaan Israel: Musa, Sabat, Imam Besar, Harun, Tabut Perjanjian, serta Bait Allah yang secara literal disebutnya hanya sebagai kiasan pada masa sekarang (9:9a) dibandingkan dengan Yesus Kristus.  Orang-orang ini merasa lebih unggul dari orang Bar-bar, orang Yunani, orang Romawi, dan orang Mesir, oleh karena mereka mengikuti hukum Musa, mempraktekan aturan sabat secara ketat, memperoleh kesempatan mempersembahkan korban penebus salah melalui imam besar, mewarisi ibadah yang dipraktekan dari Harun, memiliki tabut perjanjian sebagai pertanda kehadiran Allah serta Bait Allah sebagai lambang peribadahan yang benar tapi rupanya itu semua hanyalah kiasan, simbol, sebuah lambang.  Sebab ketika Kristus hadir, maka semua itu menjadi sia-sia.  Sama seperti ketika ketika orang Bar-bar, orang Yunani, orang Romawi, dan orang Mesir, yang dulunya telah hidup dalam kesia-siaan namun sekarang mengalami hidup yang baru oleh karena penebusan Kristus yang mereka percayai berdasarkan kesaksian para murid Yesus, demikianlah mereka telah sama-sama dipersekutukan dengan Allah.

Oleh karena apa yang telah Allah kerjakan baik bagi orang Ibrani dan juga kepada orang Bar-bar, orang Yunani, orang Romawi, dan orang Mesir, maka tugas selanjutnya dari orang-orang yang telah dipersekutukan oleh Allah dengan diri-Nya adalah menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah; meluruskan jalan dari kaki yang pincang agar tidak jatuh semakin dalam, tetapi menjadi sembuh (ay. 12-13).  Inilah kerukunan yang dihasilkan hanya dalam persekutuan.  Melalui persekutuan ini kita menciptakan kerukunan yang saling menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah, serta meluruskan jalan agar tidak ada seorang pun dari persekutuan ini yang kemudian jatuh semakin dalam dalam kepincangan hidupnya, melainkan menjadi sembuh.  Kerukunan bukan hanya berarti tidak ada perpecahan, tidak ada perselisihan, tidak ada keributan, namun kerukunan dalam persekutuan memiliki arti yang lebih dalam dari itu semua yaitu kesediaan diri untuk menjadi penguat dari tangan yang saudaranya lemah dan lutut sahabatnya yang goyah, serta pelurus dari kehidupan rekannya yang telah bengkok.  Inilah kerukunan yang unik yang hanya dihasilkan melalui persekutuan dalam tubuh Kristus.

Banyak usaha untuk menciptakan persekutuan.  Misalnya komunitas RT/RW, karang taruna.  Sekarang malah sudah muncul dengan nama-nama yang keren.  Misalnya kumpulan pengendara motor menyebut dirinya biker’s; kelompok pengendara sepeda bersatu dalam bike to work’s; para penyuka tontonan OVJ menyebut dirinya OVJ mania; para penyuka talkshow bukan empat mata menyebut dirinya ‘tukulers’;  bahkan dikalangan kampus ada kelompok untuk orang-orang yang Ip-nya anjlok yaitu ‘nasakom’ (nasib satu koma),  namun demikian apakah bedanya kelompok-kelompok ini dengan kita?  Mungkin kita akan berkata bahwa bedanya adalah bahwa persekutuan kita adalah persekutuan dalam kerukunan.  Jika hanya demikian, apakah bedanya kita dengan persekutuan arisan yang bahkan bisa rukun dalam perputaran uang?  Apakah bedanya kita dengan persekutuan pedagang kaki lima (sama-sama PKL-nya) yang bahkan rukun oleh karena memelihara persaingan sehat diantara mereka, bahkan mereka bisa begitu kompak saat mengalami penggusuran satpol pp?  Kita tidak menduga bahwa ternyata (mungkin) pemahaman kita selama ini tentang persekutuan masih belumlah seunik yang Alkitab sesungguhnya nyatakan kepada para penerima surat Ibrani.

Melalui bagian berikutnya (ay. 14-17) kita akan belajar bahwa kerukunan merupakan demonstrasi persekutuan.  Penulis kitab Ibrani membuka tesisnya dengan berkata (tafsiran langsung untuk ayat 14), ‘damai itu kejarlah engkau dengan seluruh pikiran dan pengudusan diri, oleh karena kecuali melalui anugerah itu tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah’.  Beberapa hal yang penting untuk kita simak, yaitu bahwa kerukunan yang kita pelihara dan kita bangun bukanlah sesuatu yang berasal dari dalam diri kita, yaitu sekedar tidak ada perpecahan, tidak ada perselisihan, tidak ada keributan, tidak ada amarah, tidak ada iri dan lain sebagainya, tetapi damai yang hanya tercipta oleh karena penebusan dosa yang dikerjakan oleh Kristus, oleh karena dikatakan bahwa itu adalah anugerah yang memungkinkan seseorang dapat melihat Allah.

Damai atau kerukunan itu adalah anugerah Allah yang Ia demonstrasikan saat Ia mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri-Nya, taat sampai mati bahkan mati-Nya pun di atas kayu salib (Fil. 2:7-8).  Secara sederhana, Ia adalah Allah sendiri namun telah ‘menanggalkan’ ke-Allahan-Nya untuk menjadi sama seperti manusia dalam diri Yesus Kristus, mengenakan kehambaan yang taat bahkan dalam ketaatan spiritual yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia manapun.  Hanya damai itulah yang menyebabkan Ia memandang manusia sebagai umat tebusan, oleh karena Ia telah membenarkannya dalam diri Yesus Kristus. Paulus berkata: ‘kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran (Rom. 6:18).  Inilah yang menyebabkan kita memiliki damai atau rukun yang berbeda dan unik.  Sekali lagi, inilah kerukunan yang unik yang hanya dihasilkan melalui persekutuan dalam tubuh Kristus.

Tugas kita adalah terus menerus sedemikian rupa memikirkan damai itu dan mengaktualisasikannya dalam kudusnya hidup, seperti yang dinyatakan oleh penulis kitab Ibrani tadi.  Pertanyaannya tentu saja adalah bagaimana caranya:  penulis kitab Ibrani lebih lanjut berkata: janganlah ada seorang pun yang keluar dari anugerah Allah (ay. 15) … atau dengan perkataan lain: janganlah ada seorang pun yang menjadi amoral atau cemar seperti Esau, seorang yang telah menjual kebenaran dirinya (ay. 16).  Apa maksud dari penulis Ibrani ini?  Pada bagian yang lain ia juga menulis: Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum (6:4-6).

Ayat-ayat ini memiliki pengertian yang sama, yaitu janganlah kita berpikir bahwa kita bisa menukar anugerah Allah dengan usaha kita sendiri.  Sama seperti keselamatan adalah murni anugerah Allah, maka demikianlah kita harus mendemonstrasikan kerukunan sebagai bagian dari anugerah Allah juga.  Jadi tugas kita dalam menciptakan damai yang seperti ini adalah seperti yang disampaikan oleh Paulus:  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri … (Fil. 2:5-7).

Dengan demikian, kerukunan dalam persekutuan kita menjadi unik oleh karena tidak ada yang menjadi manusia super diantara yang lain, tidak ada yang menjadi nomor satu dibanding yang lain, tidak ada yang lebih unggul, lebih pintar, lebih hebat, dll.  Inilah kebenaran yang telah dipraktekkan oleh Kristus yang hanya dapat ditiru oleh para pengikut Kristus.  Inilah kebenaran yang unik yang tidak dimiliki oleh persekutuan manapun di muka bumi ini.  Jadi mari kita hasilkan kerukunan yang merupakan demonstrasi dari persekutuan, dimana kita semua menaruh menaruh pikiran dan perasaan kita ke dalam pikiran dan perasaan Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri.  Untuk ketiga kalinya saya katakan, inilah kerukunan yang unik yang hanya dihasilkan melalui persekutuan dalam tubuh Kristus.  Hanya melalui ini kita bisa menciptakan kehidupan yang rukun dengan semua orang.  Tuhan kiranya menolong kita, Amin.

 

-apg-

Iklan

Bebalnya Diri ini

Matius 16:1-4

 Setiap manusia memiliki mekanisme keamanan atau perlindungan diri; baik secara fisik maupun mental.  Secara fisik misalnya: saat kita sedang mengendarai motor dan melewati jalan berdebu maka kelopak mata akan menutup secara otomatis guna melindungi mata.  Kita pun akan takjub dengan bagian lainnya dari diri kita yang tercipta dalam mekanisme keamanan atau perlindungan diri.  Hal yang sama juga telah Tuhan ciptakan dalam aspek moral kita.  Adam dan Hawa diciptakan dalam benih ilahi yang memiliki kepekaan spiritual (Calvin menyebutnya sebagai sensus devinitas).  Kepekaan spiritual ini dianugerahkan Tuhan kepada seluruh manusia ciptaan-Nya, sebab kita tidak mungkin dapat melarikan diri dari fakta eksistensi Tuhan.  Kemanapun, kapanpun, bahkan dimanapun kita melarikan diri Tuhan tetap sanggup menjangkau manusia (Luther menyebutnya dengan coram deo), entahkan itu dengan anugerah kasih atau anugerah hukuman.

Bersamaan dengan benih ilahi berupa kepekaan spiritual, Tuhan juga memberikan benih manusiawi yaitu kehendak bebas.  Adanya kehendak bebas, maka kita menjadi ciptaan yang berbeda dengan ciptaan lainnya.  Kita memiliki kemampuan untuk mengamati, menganalisa, memilih, memutuskan bahkan mengikatkan diri pada keputusan tersebut.  Sehingga saat manusia memuji dan menyembah Tuhan pertama-tama oleh karena kita memiliki sensus devinitas atas Allah yang tak terhindarkan (coram deo), namun juga oleh karena kesadaran akan tanggung jawab hidup yang efektif dan bernilai (dalam pengertian yang sangat sederhana kita mengenalnya dengan insting).

Sayangnya, kehendak bebas yang seharusnya bersinergis dengan kepekaan spiritual justru menjerat manusia dalam kenikmatan badani belaka.  Ada orang yang dengan mudah menghancurkan karier masa depannya dengan pil extacy, meninggalkan keluarga yang bahagia demi kenikmatan sesaat dari sex, menjual harga dirinya demi alasan mendapatkan uang banyak secara mudah dan masih banyak lagi contoh-contoh yang terlihat disekitar kita.  Manusia kehilangan rasa malu ketika melakukan perbuatan tercela, semakin berani untuk melakukan pelanggaran, dan bahkan punya banyak sekali cara untuk membenarkan perbuatan tidak terpujinya.

Inilah yang sedang Tuhan Yesus katakan kepada para ahli Farisi dan Saduki: “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak (Mat 16:2-3 ITB).

Sering sekali kita mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi bukannya memilih yang baik dan menolak yang buruk kita malah melakukan sebaliknya.  Paulus, dalam pengalaman pribadinya berkata: “aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.  Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat  (Rom 7:14-15) … Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat  (Rom 7:18-19).

Lihatlah apa yang terjadi dengan Adam dan Hawa.  Mereka memiliki kelimpahan dalam segala hal: hidup dalam taman yang sungguh amat baik dalam keteraturan ciptaan Tuhan, memiliki kepercayaan diri yang paling maksimal, menikmati makan dan minum yang sehat serta memenuhi segala kebutuhan fisik mereka.  Namun demikian, mereka menukarkan itu dengan keinginan bodoh untuk menjadi sama seperti Allah.  Mirip halnya dengan Esau: menjadi pewaris hak kesulungan, tumbuh sebagai pria sejati, serta mendapat kasih dari ayahnya itu tidak serta merta membuatnya sanggup menolak tuntutan rasa laparnya.  Ia menukar itu semua dengan semangkuk sop kacang merah.  Apa yang terjadi dengan Daud?  Hidup sebagai orang yang paling dikasihi Allah, memiliki kuasa penuh atas kerajaan dan dunia, didukung oleh para pahlawan gagah perkasanya, dicintai oleh seluruh rakyatnya serta ditakuti para lawannya.  Justru saat ia sedang berada pada puncak kariernya, ia jatuh dalam perselingkuhan dengan istri pegawai setianya.  Masih banyak lagi contoh lainnya, yang pada akhirnya semua mengalami hukuman dari Tuhan.

Bagaimana dengan kehidupan kita?  Apakah kita telah cukup lebih baik?  Rasa-rasanya tidak.  Memang kita sudah mengalami keselamatan yang dari Allah, mendapat anugerah dalam pengorbanan Kristus, dimateraikan sebagai pewaris kerajaan Allah, dipersekutukan dalam persekutuan beriman, namun ternyata sering sekali kehendak bebas merusak kepekaan spiritual kita.  Jika demikian, bagaimana caranya kita bersikap: apakah lebih baik bagi kita untuk menjadi robot saja yang diprogram hanya untuk berkata: haleluya, Puji Tuhan!  Atau memprogram software yang membuat diri kita hanya melakukan kebaikan dan kebenaran belaka.  Tentu saja tidak.  Tuhan memberikan kepekaan  spiritual dan kehendak bebas agar kita menjadi manusia seutuhnya yang mandiri dan bertanggung jawab.

Paulus menolong kita secara praktis ketika ia berkata: “ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.  Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus (Ef 6:13-18).

Bukan hanya kita dan seluruh orang percaya yang saling mendoakan agar setiap kita sanggup hidup dalam kehendak bebas yang bersinergis dengan kepekaan spiritual tapi Tuhan Yesus terus berdoa bagi kita agar kita hidup dalam hidup yang lebih efektif dan mempermuliakan Tuhan.  Kiranya semakin hari kita menjadi semakin dewasa dan mampu menghilangkaan kedegilan kita dan menggantikannya dengan kehidupan yang bersinergis antara kehendak bebas dan kepekaan spiritual.  Tuhan menolong kita melakukannya, Amin.

 

-apg-

Tak Berhenti Menikmati Kemurahan Allah

Roma 12: 1

Saya percaya bahwa kita adalah penikmat kemurahan Tuhan, walaupun dalam level tertentu kita hanya mampu menikmatinya dalam bahasa fisik.  Dalam bahasa yang terungkap oleh mulut kita sering berkata: ‘saya hidup oleh kemurahan Tuhan’, dan memang kebanyakan orang percaya senang mendengarnya dan mungkin para rohaniawan akan memsejajarkan kita menjadi selevel dengannya.  Padahal sesungguhnya yang kita maksudkan dengan ungkapan: ‘saya hidup oleh kemurahan Tuhan’ adalah hidup dalam karier yang menanjak, tidak pernah sakit, tidak ada resesi keuangan dan hal-hal yang juga diimpikan oleh mereka yang diluar Kristus.  Apabila kita masih berkanjang dalam perspektif ini, maka sesungguhnya kita bukanlah penikmat Kemurahan Allah.  Kenapa demikian: ‘analogi anak kecil dengan mainan barunya’.  Seorang anak kecil ketika diberikan mainan yang sangat ia idamkan tentu saja akan memperlakukan mainannya tersebut dengan sangat istimewa, namun coba perhatikan apa yang terjadi dengan mainan tersebut lama setelah itu?  Rusak.  Inilah analogi penikmat kemurahan Tuhan dalam level kanak-kanak, selalu ingin yang baru sesuai dengan keinginan, sehingga Tuhan ditempatkan sebagai mesin ATM, yang selalu harus menghasilkan uang pada saat diinginkan.  Penikmat kekanak-kanakkan bukanlah penikmat sejati.

Paulus hendak membawa jemaat Roma pada level menjadi dewasa dalam menikmati kemurahan Allah: pertama, mampu hidup dalam perubahan yang dihasilkan oleh Roh Kudus; kedua, menikmati keseluruhan kasih karunia pelayanan yang Tuhan berikan guna melayani jemaat Tuhan (12:3-8); ketiga, menikmati kasih kepada sesama (12:9-21); keempat, menikmati hidup diperintah oleh pemerintahan dunia (13:1-7), dan seterusnya.  Pertanyaan pentingnya, apakah kita tetap bisa menikmati kemurahan Tuhan dalam konteks penolakan, kepahitan, disepelekan? Mungkin saya pun juga tidak siap, namun pada level inilah kita akan merenungkan Roma 12:1 ini.  Bagaimana caranya kita bisa menikmati kemurahan Tuhan sebagai seorang dewasa dan bukannya sebagai kanak-kanak?

Pertama, kemurahan Tuhan hanya bisa dinikmati orang yang mampu menaruh cinta pada-Nya ‘lebih dari yang lain’[1].  Mari memikirkan sebuah logika sederhana: semua orang menikmati kemurahan yang sama, matahari, bulan, bintang, hujan, alam namun hanya sedikit orang yang mampu menikmati ‘sesuatu’ di balik adanya matahari, bulan, bintang, hujan, alam.  Semua orang bisa menikmati karier yang menanjak, tidak pernah sakit, tidak ada resesi keuangan, namun hanya sedikit orang yang mampu menikmati ‘sesuatu’ dibalik karier yang menanjak, tidak pernah sakit, tidak ada resesi keuangan.  Mungkin sedikit orang bisa menikmati sakit, penderitaan, penolakan, kepahitan dan disepelekan, namun lebih sedikit lagi orang yang mampu menikmati ‘sesuatu’ di balik adanya sakit, penderitaan, penolakan, kepahitan dan disepelekan.  Dengan demikian benarlah apa yang dikatakan oleh C.S Lewis: ‘mereka yang tidak memiliki apa-apa tidak dapat memberikan apa-apa; mereka yang tidak pergi ke mana-mana tidak akan mempunyai teman seperjalanan’.[2]  Sederhananya: mereka yang tidak serius mencintai Tuhan, mereka juga tidak pernah secara serius berusaha menikmati keseluruhan kemurahan Tuhan.

Apakah kita mencintai Tuhan?  Kita pasti menjawabnya amin.  Ironisnya, inilah pertanyaan yang sama yang dulu pernah ditanyakan oleh Tuhan sendiri pada Petrus.  Apakah Petrus berani berkata amin (seperti kebanyakan kita)?  Tidak, sebab ia sadar bahwa cintanya akan Tuhan terus dibatasi oleh ketidakmampuan dan keterbatasan.  Namun apakah keterbatasan ini menyebabkan ia berhenti mencintai Tuhan? Tidak juga, sebab dari keterbatasan cintanya, ia mampu memberikan cintanya kepada Tuhan lebih dari yang lain, bahkan lebih dari kita semua (mungkin).

Sejarah menunjukan cinta akan Tuhan yang lebih dari yang lain, misalnya saja: Sung Siong Geh, Umur 18 tahun kuliah S1 Kimia di Wesleyan University di Ohio, S2 (9 bulan) dan S3 (18 bulan) di Ohio State University lulus dengan predikat summa cumlaude.  Ia kemudian membuat keputusan radikal dengan meninggalkan itu semua dan masuk sekolah teologi di Union Theological Seminary, hasilnya: dalam 193 hari ia berhasil membuat analisa eksegesa dari Kej. 1 – Why 22 (1.189 pasal) dengan 40 sudut pandang berbeda (justru dalam keadaan sakit).  Menjadi penginjil di China, Thaiwan dan Indonesia yg kemudian di kenal dgn nama sapaan: John Sung.  Kenapa John Shung mampu melakukannya?  Karena ia mengenal siapa yang Ia layani.  Bagaimana ia bisa melakukannya? karena ia mampu mencintai Tuhan lebih dari yang lain.

Inilah rahasia terdalam dari kemurahan Tuhan, adalah fakta bahwa kemurahan-Nya diberikan kepada semua manusia, namun disisi lain, kemurahan itu hanya bisa dinikmati oleh orang yang menaruh cinta pada-Nya lebih dari yang lain.  Jika demikian: apakah kemurahan Tuhan bersyarat?  Tidak, sebab Ia memberikannya pada seluruh ciptaan-Nya dan bahwa tidak ada kontribusi apapun dari manusia yang mensyaratkan dirinya sendiri sebagai penerima kemurahan Tuhan ini pun adalah kebenaran biblikal.  Namun kita juga harus ingat fakta bahwa Tuhan memberikan kemurahan kepada manusia adalah hal yang berbeda dengan menjadi manusia yang menikmati kemurahan Tuhan.  Paulus sendiri berkata: ‘malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus … (sebab), yang kukehendaki adalah mengenal Dia …’.[3]  Dari manakah kita mulai belajar mencintai Tuhan lebih dari yang lainnya?  C.S Lewis memberi analogi sederhana: ‘orang-orang yang bosan satu sama lain tentunya jarang bertemu; orang-orang yang tertarik satu sama lain, sering bertemu’.[4]  Pertanyaannya: kapan terakhir kali kita menikmati bertemu dengan Tuhan?  Kapan terakhir kali kita dari atas mimbar begitu berantusias menyuarakan dan mempercakapkan perihal kekasih kita tersebut?  Selama kita masih berkhotbah layaknya ‘pildacil’ sesungguhnya kita bukanlah penikmat kemurahan Tuhan.  Sebab kemurahan Tuhan hanya bisa dinikmati orang yang mampu menaruh cinta pada-Nya lebih dari yang lain.

Kedua, kemurahan Tuhan hanya bisa dimiliki oleh orang yang mampu melepaskan haknya lebih dari pada yang lain.  Berbicara mengenai hakekat kehidupan kita akan bertemu dengan berbagai pengertian:  Bagi para filsuf hakekat kehidupan adalah kesudahan/kematian, bagi para agamawan hakekat kehidupan adalah langkah menuju kehidupan lain, bagi para ekonom hakekat kehidupan adalah memberi makna atas sejumlah materi yang dapat diraih.  Bagi para scientific hakekat kehidupan adalah sebuah sikluas materi dan immateri.

Apa hakekat kehidupan menurut Paulus?  Jawabannya sederhana: ‘mempersembahkan’, namun dari jawaban sederhana ini terangkai kompleksitas dan keruwetan serta kemustahilan bagi kita manusia modern untuk melakukannya, yaitu mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini dalam keadaan hidup, kudus dan berkenan.  Kenapa menjadi sulit?  Sebab hanya dengan memiliki tubuh (σῶμα) ini kita bisa menunjukan eksistensi kita, kita bisa menikmati 1001 tawaran dunia, kita bisa membuat pilihan atas kebutuhan dan keinginan kita.  Hal-hal ini hanya merupakan sebagian kecil dari alasan-alasan kesulitan kita dalam mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini.  Atau mungkin kita akan berkata: saya sudah mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini tatkala saya mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan.  Jangan lupa bahwa dalam hal ini pun pemazmur telah jauh melampaui kita ketika ia berkata: ‘sekalipun dagingku (tubuh [σῶμα] ini) dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya’.[5]

Jadi apakah kita telah mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini?  Mungkin tidak, sebab seringkali kita hanya meminjamkan tubuh (σῶμα) ini untuk dipakai Allah; atau bisa saja kita hanya memerankan tubuh (σῶμα) ini dalam sebuah sandiwara rohani dalam komunitas hamba-hamba Tuhan.  Namun kita lupa bahwa hakekat hidup dalam kemurahan Tuhan adalah mempersembahkan.

Apa arti mempersembahkan?  Istilah yang digunakan adalah παραστῆσαι (verb infinitive aorist active from παρίστημι) yang berarti saya meletakkan diri saya dalam partisipasi intim dengan Tuhan[6] sehingga saya hanyalah menjadi miliknya yang utuh, yang dikhususkan dan yang disukai oleh Allah. Sederhananya: mempersembahkan berarti kita membiarkan Allah yang menjadi tuan yang berhak sepenuhnya atas hak kita.  Inilah persembahan sejati dari seorang hamba.  Apakah saya telah mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini?  Mungkin saja tidak.

Mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sadar bahwa kehidupan serta segala buah kehidupan adalah milik Tuhan yang dititipkan-Nya selama kita masih tinggal di dunia ini.  Sebuah puisi dari W.S Rendra yang berjudul : ‘Makna Sebuah Titipan’[7] menolong saya memahami kehidupan ini.

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan

kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,

ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,
dan

kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,

padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku

hanyalah untuk menyenangkan Engkau…

 

Jadi mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan merupakan konsekuensi dari kemurahan Allah, sebab kemurahan Tuhan hanya bisa dimiliki oleh orang yang mampu melepaskan haknya lebih dari pada yang lain.

Ketiga, kemurahan Tuhan hanya bisa dimaknai oleh orang yang mampu mengambil tanggung jawab lebih dari pada yang lain.  Untuk apa saya dan saudara ada di dunia ini?  Tentu saja kita akan berkata bahwa kita ada disini untuk melayani Tuhan, untuk menyenangkan Tuhan, dan untuk banyak alasan dengan melibatkan nama Tuhan.  Semoga saja begitu.  Kita semua tahu bahwa kita sedang berada di tengah-tengah gerak zaman postmodernism, yang salah satu hasilnya adalah menciptakan perilaku narcissism.  Kenapa demikian, karena di zaman ini anda tidak akan pernah menjadi sesuatu yang dianggap jika tanpa relasi, prestasi dan popularity. Akibatnya, orang yang mengalami masalah dalam perilaku narcissism selalu merasa tidak mampu hidup tanpa pujian dan kekaguman dari orang lain,[8] ia menjadi sangat peka terhadap kekurangan dan cacat cela yang ada pada dirinya yang justru kepekaan yang berlebihan tersebut membuatnya berusaha menutupnya dengan cara yang tidak wajar yaitu dengan cara terus-menerus mencari penggemar dan pujian dari orang lain.[9]

Celakanya, Andre Bustanoby dalam risetnya menemukan bahwa banyak sekali orang Kristen yang memilih profesi menjadi hamba Tuhan oleh karena kecenderungan akan perilaku narcissism.[10] Kenapa demikian? Alasan utamanya adalah dengan jalan seperti itu ia bisa bersembunyi di balik simbol-simbol ilahi:  Menutup dirinya yang sebenarnya sakit dengan ‘fenomena’ otoritas ilahi, membangun kesetiaan pengikut pada dirinya untuk menutupi ketidak setiaan yang mungkin saja ia lakukan pada orang-orang terdekatnya.

Bagaimana mengatasinya?  Paulus berkata: itu adalah ibadahmu yang sejati.  Inilah pusat dari teologi Kristen.  Teologi yang tidak lai diartikan secara sederhana sebagai ilmu yang mempelajari tentang Tuhan melalui setiap gejala-gejalanya, namun harus sampai pada tahap teologi sebagai pertanggung jawaban iman.  Apa maksudnya?  Bahwa penyerahan diri kepada Tuhan berarti kesediaan mengambil tanggung jawab.  Bahwa setiap orang percaya yang sadar bahwa hidupnya adalah hasil dari kemurahan Tuhan, akan mencintai Tuhan lebih dari pada yang lain, akan secara sadar menyerahkan tubuhnya dalam hak penentuan dan penetapan Tuhan, tetapi juga yang terpenting adalah ia akan secara sadar aktif mengambil bagian dalam tanggung jawab, karena hari-hari setelah menerima kemurahan Tuhan merupakan hari-hari ibadah yang tidak pernah akan berhenti.

Tapi apa maksudnya: kemurahan Tuhan hanya bisa dimaknai oleh orang yang mampu mengambil tanggung jawab lebih dari pada yang lain?  Francis Chen[11] menolong kita memahami perkara sulit ini.  Bagi Francis Chen, justru keberhasilan dalam pelayanan merupakan kegagalan apabila ia hanya terfokus pada hal-hal yang bersifat kuantitas, baginya bertanggung jawab sebagai penerima kemurahan berarti membiarkan dirinya menjadi semakin tidak populer dan menjadikan nama Tuhan sebagai pribadi yang paling dekat dengan jemaat.  Bukankah kita sering menyanyikan ini?  Dia harus makin bertambah – ku harus makin berkurang, nama Yesus saja disembah ku di tempat paling belakang, dst.

Jadi apa yang harus kita lakukan?  Belajarlah mengambil bagian dalam tanggung jawab.  Ada banyak hal yang dapat anda kerjakan di dunia ini, entahkan anda sebagai pejabat negara (di daerah), pengayom masyarakat (dalam konteks Sitaro), dan lain sebagainya.  Tantangannya adalah apakah anda siap mengambil dan melaksanakan tanggung jawab itu dengan tanpa harus diketahui oleh orang lain bahwa anda sedang melakukannya?  Apabila anda berani melakukannya, maka anda sedang menikmati kemurahan Tuhan dalam cara yang unik yang berbeda dengan yang lain.  Ingatlah bahwa:

1.         Kemurahan Tuhan hanya bisa dinikmati orang yang mampu menaruh cinta pada-Nya lebih dari yang lain.
2.         Kemurahan Tuhan hanya bisa dimiliki oleh orang yang mampu melepaskan haknya lebih dari pada yang lain.
3.         Kemurahan Tuhan hanya bisa dimaknai oleh orang yang mampu mengambil tanggung jawab lebih dari pada yang lain.

 

[1] Lebih dari yang lain tidak bermaksud untuk kita saling berkompetisi dengan orang lain, namun untuk melihat yang lain itu justru dari dalam diri masing-masing kita.

[2] C.S Lewis, Empat Macam Kasih (Bandung: Pioner Jaya, 2010), 86.

[3] Filipi 3:8a, 10a.

[4] Lewis, Empat Macam, 104.

[5] Mazmur. 73:26.

[6] Diunduh dari http://concordances.org/greek/3844.htm pada Senin, 17 Oktober 2011.

[7] Diunduh dari http://www.puisi.org/2008/03/04/makna-sebuah-titipan/ pada Senin, 17 Oktober 2011.

[8] Otto Kernberg, ‘Why Some People Can’t Love’ dalam Psychology Today, Juni 1978, 55.  Seperti yang dikutip oleh Yakub Susabda, Pastoral Konseling, vol. 1: Pendekatan Konseling didasarkan pada Integrasi antara Psikologi dan Teologi (Malang: Gandum Mas, 2009), 21.

[9] Susabda, Pastoral, 21.

[10] Andre Bustanoby, ‘The Pastor and the Other Woman’ dalam Christianity Today, Agustus 1974, 7-10.  Seperti yang dikutip oleh Susabda, Pastoral, 21.

[11] Francis Chan is the founding pastor of Cornerstone Church in Simi Valley, CA, starting the church in 1994. In May 2010, he left Cornerstone to work directly in mission with the poor locally and internationally.  Diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Chan pada Senin, 17 Oktober 2011.  Pada akhirnya, ia undur dari pelayanan tersebut oleh karena ia mendapati bahwa jemaatnya lebih sering membicarakan perihal keberhasilan dirinya dibandingkan dengan Tuhan Yesus sendiri.

 

 

–apg–

Pengharapan di tengah Kesulitan

Yesaya 54:1-6

Hidup Kristen adalah pertarungan dalam pengharapan.  Pertarungan oleh karena sering sekali kita diperhadapkan dengan realita pergumulan bukan lagi memilih untuk beriman atau tidak, tetapi pertarungan bagaimana caranya agar iman itu efektif di tengah-tengah kesulitan. Sebuah arena pertarungan dimana Tuhan ‘secara sengaja’ menempatkan kita sampai pada ‘batas akhir’ kemampuan kita; bahkan terkadang Ia memasukan kita dari arena satu ke area pertarungan lainnya, yang dalam realita kerapuhan kemanusiaan kita diperhadapkan dengan kebingungan oleh karena kita tidak mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan pada kita.  Tidak jarang kita melihat ada orang beriman yang berjuang bertahun-tahun dengan sakit cancer dan akhirnya ia meninggal juga.  Dalam realita yang sulit dan tak terpahami seperti ini, apa sebenarnya pengharapan itu?  Bagaimana kita membahasakan iman kepada Tuhan, ketika iman itu sendiri kita jumpai dalam kegelisahan?  Apa yang hendak Tuhan singkapkan kepada kita, disaat Ia membawa kita dalam batasan akhir perjuangan iman?   Sering sekali kita mengakhiri perjuangan iman dengan kepasrahan bukan karena percaya tapi karena keputus asaan.  Namun, Yesaya menolong kita memahami bagaimana agar tetap berpengharapan walau di tengah kesulitan.

Nama kitab ini sesuai dengan nama nabi yang menyampaikan pesan  ilahi  di  dalamnya,  yaitu  Yesaeyah.  Walaupun  nama  ini  sudah  sangat  populer  sebagai nama kitab, namun nama Yesaya  sendiri di dalam Alkitab  seringkali memakai bentuk yang lebih  panjang,  yaitu  Yešaeyāhû.   Nama  Yešaeyāhû  memiliki  arti  “keselamatan  dari Yahweh” atau  “Yahweh  adalah  keselamatan”.  Dengan demikian tema pengharapan merupakan tema sentral dari kitab ini yang langsung dihubungkan dengan pribadi Mesias yang akan datang dan menderita sebagai ganti umat-Nya (Yes. 53:4-6).  Dua prinsip penting berkenaan dengan aspek pengharapan dalam kitab Yesaya dapat dilihat sebagai berikut:

1.   Pengharapan harus dilepaskan dari jangkauan akali.

Ayat 1-4 sering sekali diartikan dalam batasan akal.  Membaca ayat 1-4 ini sering diartikan sebagai (ay. 1, 4) realita orang yang mandul kemudian dilepaskan kemandulannya oleh Tuhan hingga ia memiliki banyak anak, dan memang banyak bukti yang bisa kita ambil dari dalam Akitab, misalnya: Sarah, Ribka, Elisabeth dan lain-lain; (2, 3) realita bahwa kita akan menjadi orang-orang penting dan akan mendapatkan posisi karier yang terus menanjak, misalnya: Yusuf, Yakub, Daud dan lain-lain.  Memang tafsiran itu tidak salah, namun apabila diperhatikan dalam keseluruhan kitab Yesaya, maka bukan itu maksud dari nabi Yesaya.  Dan sesungguhnya bukan pengharapan seperti itu yang sedang Tuhan janjikan kepada Israel dan juga kepada kita saat ini.  Pengharapan yang Tuhan janjikan adalah pengharapan yang jauh diluar batas-batas akali, sebab hanya dengan cara itulah kita bisa mengalami pengharapan yang unik, yang ada dalam kitab Yesaya dan bahkan yang hanya ada dalam pengalaman iman kita bersama dengan Tuhan.  Pengalaman seperti ini tidak akan dijumpai dalam diri orang yang tidak mengenal Yesus secara pribadi.Ayat 1-4 harus dipahami dalam terang ayat 5, bahwa pengharapan yang dimaksud Tuhan adalah pengharapan yang sifatnya spiritual.  Pengharapan yang memungkinkan kita mengalami persekutuan terus menerus dengan Tuhan.  Pengharapan yang membawa kita dalam persekutuan dan pengenalan yang dinamis dengan Tuhan.  Pengharapan yang bahkan mengikat kita menjadi milik Allah yang telah menebus kita.

Contoh sederhana dari kebenaran ini dapat kita temukan dalam kitab Rut.  Saat Rut menjadi janda dan ikut serta Naomi kembali ke Betlehem, maka ada hukum yang berlaku yaitu Rut harus menikah (ditebus) oleh kerabat terdekat mereka agar nama, status, dan warisan keluarga tidak jatuh pada orang lain.  Boas pun menjumpai seorang kerabat yang lain dan akhirnya menebus Rut bagi dirinya (baca Rut 4:5-17).

Sebagai orang-orang yang telah ditebus Tuhan menjadi milik bagi-Nya, maka pengharapan kita bukan lagi pengharapan yang sifatnya bendawi, dan temporal; namun pengharapan kita adalah pengharapan spiritual dan keintiman dengan-Nya

2.   Pengharapan harus diselaraskan dengan rancangan ilahi.

Dalam bahasa kita harapan sebenarnya sering diartikan sebagai keinginan atau kebutuhan.  Ketika kita berkata misalnya: saya beriman memiliki pekerjaan tetap agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga, maka sebenarnya yang dimaksud adalah oleh karena kebutuhan keluarga yang sudah tidak teratasi dengan penghasilan  saat ini, maka kita ingin agar penghasilan kita bertambah atau paling tidak tetap pada setiap bulannya.  Dan rupanya dalam bahasa nabi Yesaya, keinginan atau kebutuhan tidak bisa dibahasakan sebagai pengharapan atau sikap beriman.  Sebab dalam pemikiran nabi Yesaya, pengharapan itu adalah saat kita membiarkan diri kita diselaraskan dengan tujuan Allah.  Memang kedengarannya pasif, namun sesungguhnya yang sedang dimaksud oleh nabi Yesaya adalah sikap menanti dengan sabar, yang terus bergumul dan mencari kehendak dan rancangan Tuhan dalam hidup kita.  Dengan demikian, pengharapan yang dimaksud oleh Yesaya adalah beriman dalam keaktifan menanti, taat, serta membuka indera rohani kita terus menerus untuk mencari tau apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita.  Pengharapan ini terus bertanya apa tujuan yang hendak Tuhan capai melalui hidup saya.  Tuhan Yesus secara jelas berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

(Mat 11:28-30), sering sekali kita membaca ayat tersebut hanya pada ayat 28 aja dan kemudian kita berhenti seraya berkata: ‘cukup, ayat ini saja yang Tuhan ingin sampaikan pada saya’; justru kita tidak akan mengalami realita iman yang bertumbuh, dan sangat mungkin Tuhan akan membawa kita pada arena perjuangan iman yang berikutnya hingga akhirnya kita dengan rela mengaminkan ayat 29-30.  Dalam konteks pengharapanlah kalimat tersebut disampaikan oleh Tuhan Yesus.  Pengharapan agar kita secara aktif menanti, taat, serta membuka indera rohani kita terus menerus untuk mencari tau apa yang ingin Tuhan kerjakan dalam hidup kita.

Pengharapan yang sejati adalah saat kita mampu menangalkan keinginan pribadi dan menggantikannya dengan keinginan Tuhan.  Prinsip ini mudah untuk diucapkan, apalagi di dengar, namun rupanya butuh iman yang aktif menanti, taat, serta membuka indera rohani agar kita  tau apa yang Tuhan inginkan dari hidup kita.

 

 

 

–apg–

Kuasa Yesus

Markus 2:1-5

Pada saat ini dalam konteks kita, pertanyaan-pertanyaan mengenai Yesus dan kuasa-Nya bukanlah sesuatu yang menggelisahkan lagi oleh karena sejak beberapa abad yang lalu, para teolog telah berhasil menelusuri fakta dan data mengenai Yesus dan kuasa-Nya, mereka pun telah secara bijak menyusunnya dalam banyak literatur.  Kalaupun saat-saat ini ada bermunculan tulisan-tulisan yang ‘kembali’ meragukan mengenai Yesus dan kuasa-Nya, maka bahkan seorang ‘anak sekolah minggu’ pun sudah bisa berapologi secara baik dan benar (dalam fase perkembangan berpikirnya).

Ketika ditahun baru ini kita bersama-sama merenungkan pembacaan Alkitab yang terambil dari Markus 2:1-5, mengenai sebuah kisah spektakuler dimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh,  Entah sudah beberapa kali dan mungkin bahkan sudah ratusan kali kita membaca dan merenungkan bagian ini dan bukankah kita sudah sama-sama bersepakat bahwa Yesus adalah Allah yang datang dari Sang Bapa sebagai Putra Tunggal, yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara yang bernama Maria, seorang keturunan raja Daud, raja besar itu.  Mengenai kuasa-Nya bahkan sudah merupakan sesuatu yang asing bagi kita:  Ia telah bangkit, menang atas maut, naik ke surga, duduk disebelah kanan Allah sebagai pribadi yang berkuasa penuh atas langit dan bumi, dunia dan sorga, masa lalu, masa kini, masa yang akan datang, bahkan dalam kuasa-Nya itu kita mendapatkan pengampunan dosa, kebangkitan daging dan hidup yang kekal.  Kita kemudian rutin mengucapkannya dalam kalimat-kalimat pengakuan iman kita pada setiap ibadah-ibadah kita.

Jika demikian, mengapa kita perlu merenungkannya sekali lagi?  Ya, memikirkannya secara serius di awal tahun baru ini.  Mengapa?  Justru ketika kita telah ‘terbiasa’ dengan hal-hal ini dan tidak lagi mampu merasakannya sebagai sesuatu yang wah, maka barangkali ini salah satu alasan mengapa kita perlu merenungkannya.  Saya memiliki analogi sederhana:  putra saya, begitu excited dengan boneka angry bird-nya.  Ia bahkan sudah menguasai beragam trik di game angry bird-nya.  Namun apa yang terjadi selanjutnya dengan boneka angry bird-nya setelah sekian lama dimainkan?  Boneka itu sudah dilemparkannya ke atas genteng.  Marilah kita merenungkan sekali lagi mengenai Yesus dan kuasa-Nya dengan kesadaran diri bahwa kita adalah manusia rapuh yang mudah mengabaikan, melupakan bahkan menyepelekan Yesus dan kuasa-Nya sampai kita kemudian mengalami pergumulan berat dan menjadi teringat akan Dia.  Mario Teguh pernah berujar demikian: ‘bukan masalah jika sang bos tidak ‘direken’ oleh kita namun adalah bahaya besar jika kita sudah tidak ‘direken’ oleh sang bos, sebab itu artinya sebentar lagi kita akan dipecat.  Semoga saja hal seperti itu tidak terjadi dalam keintiman kita dengan Tuhan.  Jika demikian, kesadaran seperti apakah yang harus kita miliki agar kita bisa terus menghidupkan Tuhan Yesus dan kuasa-Nya dalam kehidupan kita?

Mari renungkan kalimat ini:  Tuhan Yesus sangat berkuasa namun sering sekali Ia ingin menjadikan kita sebagai saluran kuasa-Nya bagi orang lain.  Penulis Injil Markus secara tepat membuka kisah ini.  Ia mencatat bahwa setelah beberapa waktu lamanya, Tuhan Yesus kembali mengunjungi Kaparnaum dan berita ini segera tersiar ke seluruh penjuru kota.  Begitu riuh suasana kota itu, terutama sebuah rumah yang dijadikan penginapan oleh Tuhan Yesus.  Penulis Injil Markus mendemonstrasikannya dengan menulis demikian: ‘orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak’.  Bayangkanlah seperti keriuhan di rumah ponari yang heboh oleh karena batu ajaibnya.  Semua orang datang untuk kepentingannya sendiri, atau paling tidak untuk keperluan keluarga dekatnya.  Apabila Tuhan Yesus datang saat ini menghadirkan kuasa yang sama, maka mungkin kita akan melakukan hal yang sama: berkerumun dan membawa segenap masalah kita dan keluarga kita dengan menyediakan sedikit tempat (atau mungkin saja tidak) bagi pergumulan orang lain.  Itulah kebiasaan kita ketika berinteraksi dengan Tuhan Yesus dan kuasa-Nya.

Hari ini, Tuhan memberi penyingkapan lain mengenai Diri dan kuasa-Nya.  Injil Markus menceritakan mengenai 4 orang yang membawa seorang lumpuh.  Mereka berusaha melewati kerumunan orang, hingga akhirnya menjebol atap rumah dan menurunkan si lumpuh dari atap dan Yesus menghargai iman keempat orang ini dengan jalan menyembuhkan si lumpuh.  Si lumpuh mendapatkan kesembuhan dan apa yang di dapat oleh 4 orang ini?  Mungkin kita akan berkata bahwa mereka tidak mendapat apa-apa, sebab hingga akhir cerita keempat orang ini sudah tidak disinggung lagi, bahkan oleh si lumpuh.  Namun Markus telah mencatat sesuatu yang penting pada ayat 5, yaitu Yesus melihat iman mereka.  Menarik disini bahwa ungkapan Yesus melihat, tidak dapat dipahami sesederhana ungkapan: saya melihat, pendeta melihat, mejelis melihat, atau jemaat melihat, sebab melihat disini dari bahasa Yunani ‘horao’ (ὁράω) yang lebih berarti melihat dengan teliti atau menyelidiki.  Yesus melihat hingga ke motivasi mereka, oleh karena Ia tahu bahwa mereka bukan sok pahlawan;  Yesus melihat hingga kedalam hati mereka, oleh karena mereka rela mengabaikan kepentingan mereka demi si lumpuh;  Yesus melihat hingga mengetahui apa yang mereka pikirkan, bahwa melalui kesembuhan si lumpuh Allah akan dipermuliakan.  Pertanyaannya adalah: ketika Tuhan Yesus hadir saat ini dan memperlihatkan kuasa yang sama, apakah Ia akan melihat itu dalam diri kita?  Ingat dan sadarilah bahwa Tuhan Yesus sangat berkuasa namun sering sekali Ia ingin menjadikan kita sebagai saluran kuasa-Nya bagi orang lain, terutama agar Ia dapat melihat dengan ‘horao’ (ὁράω) kepada kita.

Mari kita renungkan kalimat di atas dalam kesadaran yang benar: Tuhan Yesus sangat berkuasa namun sering sekali Ia ingin menjadikan kita sebagai saluran kuasa-Nya bagi orang lain.  Tuhan Yesus sangat ingin menjadikan kita sebagai saluran kuasa-Nya, namun keinginan-Nya tersebut diwujudkan melalui sebuah tatapan tajam tepat ke mata kita masing-masing.  Tatapan mata yang teduh, penuh kasih, namun berkuasa.  Berkuasa hingga Ia mampu melihat motivasi kita yang rindu dipakai oleh-Nya, bahwa kita datang dengan motivasi yang benar dan bukan unjuk gigi saja atau sok menjadi pahlawan kesiangan bagi gereja-Nya ini;  Ia berkuasa hingga mampu melihat kedalam hati kita, hati yang tulus, yang rela mengabaikan kepentingan pribadi demi kepentingan keseluruhan jemaat sebagai satu kesatuan tubuh Kristus;  Ia bahkan berkuasa hingga Ia mengetahui secara pasti apa yang kita sedang pikirkan dan rencanakan, yaitu untuk menjadikan Allah semakin dipermuliakan melalui setiap program dan pelayanan yang kita buat di gereja-Nya ini.

Namun, apa yang terjadi ketika ternyata pada saat Tuhan Yesus yang sedang melihat kita dengan tatapan mata yang teduh, penuh kasih, namun berkuasa ternyata Ia tidak menemukan hal-hal itu dan malah sebaliknya melihat seperti yang terjadi dengan kelanjutan kisah Injil Markus: 6Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 7“Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”  (Mar 2:6-7 ITB).  Yesus pun rupanya melihat mereka, namun meresponinya secara berbeda.   Kita pun telah mengetahu akhir dari kisah tersebut.  Namun demikian, hal yang harus kita waspadai adalah ketika kita tidak lagi menjadi seperti empat pria misterius ini, maka tidak lama lagi Yesus dan kuasa-Nya akan kita tinggalkan di atap yang telah dilubangi oleh empat pria misterius ini.  Ya, kita akan mencampakkannya di atap untuk menemani boneka angry bird-nya, putra saya.  Kiranya Tuhan menolong kita untuk mampu menjadi seperti ke empat pria misterius ini, yaitu menjadi saluran kuasa Tuhan Yesus bagi orang lain.

 

–apg–

Makna Sebuah Titipan

– W.S Rendra –

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan
kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Doa St. Fransiskus dari Assisi

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai.

Bila terjadi kebencian,jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Tuhan,
semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
memahami daripada dipahami,
mencintai daripada dicintai.
Sebab dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup
selama-lamanya,

Amin

Cara Mengungkapkan Cinta

Kidung Agung 6:1-3

Pendahuluan:

Satu-satunya bahasa yang dapat diterima oleh keseluruhan manusia walau berbeda bangsa, suku, ras, usia, ideologi bahkan agama adalah bahasa cinta.  Bahasa cinta mempertemukan, mempersatukan, bahkan mempereratkan.  Bahasa cinta adalah bahasa tindakan dan ia tidak pernah bisa berdiri sendiri tanpa adanya orang lain.  Bahasa cinta sanggup menggerakan orang untuk melakukan pengorbanan apapun yang ia miliki bagi orang lain.  Bahasa cinta dapat membuat seseorang menjadi kuat memperjuangkan hidup ketika ia diambang kematian.  Itulah bahasa cita yang kita kenal.  Namun, rupanya bahasa cinta dapat juga mejadi sangat merusak.  Demi cinta terhadap ideologi tertentu seorang yang lemah lembut dapat berubah menjadi seorang yang fatalis.  Demi cinta terhadap keyakinan ajaran agamanya, seseorang dapat menjadi seorang teroris.  Demi cinta terhadap kekasih, tidak jarang seorang muda menjadi egois.  Jadi bahasa cinta dapat dengan mudah menjadi bahasa yang merusak apabila kita keliru mengungkapkannya.

Tema renungan saat ini sangat menarik yaitu: cara mengungkapkan cinta.  Mengapa penting bagi kita untuk secara serius mengetahui cara-cara yang tepat untuk mengungkapkan cinta?  Karena cara pengungkapan bahasa cinta yang salah dapat menyebabkan seseorang yang lemah lembut menjadi fatalis, teroris dan egois.  Sebaliknya, cara yang tepat dalam  mengungkapkan cinta bukan saja membuat cinta itu terpelihara awet, tetapi juga menjadi cinta yang unggul yang membuat hidup manusia semakin efektif.

Kitab Kidung Agung sering sekali dipahami sebagai kitab yang seronok, sehingga menjadi tabu untuk dibicarakan.  Ada lagi yang menyebutnya sebagai kitab khusus bagi suami istri.  Ada juga yang bahkan merohanikannya secara ekstrem sehingga kitab Kidung Agung adalah bahasa simbolik yang menjelaskan hubungan Gereja dengan Kristus.  Namun demikian, bukan berarti itu salah, karena itu pun adalah perspektif penafsiran Alkitabiah terhadap kitab Kidung Agung.  Tujuan utama kitab kitab Kidung Agung adalah mengekspresikan cinta secara jujur, terbuka, penuh hasrat/antusias dan sebagai ekspresi manusiawi terhadap rasa cinta yang muncul.  Jadi, kitab Kidung Agung sebenarnya merupakan ekspresi normal yang muncul saat cinta itu dihargai, dijunjung tinggi dan dirayakan dalam kebersamaan pribadi yang dipersatukan Allah oleh cinta.  Melalui kitab Kidung Agung ini kita akan belajar cara mengungkapkan cinta secara tepat, benar dan Alkitabiah.

Kitab Kidung Agung merupakan sastra bersahut-sahutan perihal cinta antara seorang pria dan wanita.  Menurut tradisi, kesusasteraan ini didedikasikan kepada Salomo, seorang yang penuh hikmat, yang juga memiliki pengalaman yang personal mengenai cinta.  Sehingga, beberapa penafsir cenderung melihat kitab Kidung Agung sebagai buah karya dari Salomo.  Namun demikian, sampai saat ini hal tersebut masih misterius.  Yang terpenting adalah kita mampu menangkap pesan yang hendak disampaikan melalui kitab ini.  Melalui kitab ini, kita belajar cara mengungkapkan cinta secara benar, yaitu:

Prinsip pertama yang harus dipahami mengenai cara mengungkapkan cinta adalah cinta harus ditumbuhkan dalam saling percaya.  Rasa percaya ini bukan saja menghubungkan antar pribadi, namun dalam kitab Kidung Agung memberikan penekanan lebih pada pujian kepada Tuhan.  Ekspresi tersebut dapat dilihat dalam sepanjang kitab ini, yaitu ketika keduanya saling memuji menggunakan kata ‘bagaikan’.  Misalnya harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu (1:3); bagaikan merpati matamu (4:1); rambutmu bagaikan kawanan kambing (6:5) dan lain sebagainya.  Dengan demikian, rasa saling percaya disini adalah saling percaya dalam kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam sebuah hubungan.  Kehadiran Tuhan yang harus di puja dan dihormati.  Kehadiran-Nya yang menghadirkan ucapan syukur, sekaligus rasa saling percaya antar pribadi yang dihubungkan oleh cinta tersebut.  Prinsip ini dapat ditemukan pada pasal 6:1, bahwa kemanapun perginya sang jelita bahkan diantara wanita-wanita lainnya, maka itu tidak akan menggoyahkan pandangan sang kekasihnya pada wanita lain.

Prinsip kedua mengenai cara mengungkapkan cinta adalah bahwa cinta itu dirayakan dalam hubungan saling memiliki yang membangun bagi keduanya.  Sederhananya adalah tidak ada pihak yang dirugikan atau diuntungkan dalam sebuah hubungan.  Prinsip ini jelas nampak pada ayat 2 dan 3.  Ada frase yang diulang yaitu: ‘untuk menggembalakan domba’, frase ini sebenarnya hendak menunjukan pada sisi keuntungan yang dihasilkan oleh hubungan dan rupanya keuntungan itu dinikmati secara bersama dan adil oleh keduanya sebab diapit oleh frase ‘aku kepunyaan kekasihku dan kepunyaanku kekasihku’.  Dengan demikian, cinta itu rupanya harus diungkapkan dan dirayakan dalam hubungan yang saling memiliki dan membuat keduanya berelasi secara sehat dan membangun.

–apg–

Aku Hendak Melaksanakan Rencana-Ku

Yesaya 46: 8 – 13

8 Ingatlah hal itu dan jadilah malu, pertimbangkanlah dalam hati, hai orang-orang pemberontak!

9 Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku,

10 yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan,

11 yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.

12 Dengarkanlah Aku hai orang-orang yang congkak, orang-orang yang jauh dari kebenaran:

13 Keselamatan yang dari pada-Ku tidak jauh lagi, sebab Aku telah mendekatkannya dan kelepasan yang Kuberikan tidak bertangguh lagi; Aku akan memberikan kelepasan di Sion dan keagungan-Ku kepada Israel.”

(Isa 46:8-13 ITB)

Kata kunci dari keseluruhan kitab nabi-nabi (baik nabi besar maupun nabi kecil[1]) adalah pada hari itu.  Walaupun memang dengan tekanan yang berbeda-beda; misalnya kata ‘pada hari itu’ dalam kitab nabi Amos merujuk pada penghakiman/penghukuman dari Allah, senada dengan Hosea; lain halnya dengan kitab Yesaya dimana ungkapan pada hari itu merujuk pada ‘hari penyelamatan dari Tuhan’.  Dengan demikian, kitab Yesaya harus dipahami dalam konteks ‘hari penyelamatan dari Tuhan’.  Melalui tema sentral tersebut, Yesaya ingin menegaskan bahwa Tuhan tidak menunda-nunda lagi penyelamatan yang hendak ia laksanakan.  Masalah utama yang dihadapi oleh Israel (khususnya suku Yehuda) adalah mereka diperhadapkan untuk mempercayai janji kelepasan yang Tuhan berikan melalui hamba-Nya yang menderita dalam Yesaya 53:4-6, yang sekaligus juga menjadi bahasan kunci dari kitab Yesaya.  Dipihak lain, mereka begitu tergoda akan kuasa bangsa-bangsa sekitar: Mesir, Babel dan Asyur.  Godaan itu begitu kuat apabila dikontraskan dengan apa yang dijanjikan Tuhan melalui nabi Yesaya (hamba yang menderita), Israel pun memilih mempercayai bangsa-bangsa tersebut.

Penting bagi kita untuk bergumul dengan iman kita: apakah kita senantiasa ada dalam percaya yang penuh/prima kepada Tuhan?  Apakah kita tidak terpengaruh dengan tawaran-tawaran diluar Tuhan/’tarikan samping’ yang disodorkan pada kita?  Bukankah sering sekali kita membuat ‘plan B’ dalam realita iman tatkala jawaban Tuhan terasa lambat?  Bahkan sesungguhnya, apabila kita mencoba terbuka dengan Tuhan, maka bukankah sering sekali kita menuntut Tuhan untuk mengikuti ‘jalan dan rancangan’ kita dari pada kita yang mengikuti jalan dan rancangan Tuhan?  Disinilah letak pergumulan iman kita dihadapan Tuhan, sebagai suami/ayah kita diperhadapkan dengan tanggung jawab pada keluarga, sedangkan di pihak lain kita diperhadapkan dengan iman yang terus bergumul mencari jalan keluar.  Iman yang sejati adalah iman yang terus menerus secara jujur bergumul dengan apa yang ia imani.  Realita seperti apa yang perlu kita gumuli dalam melatih diri terus menerus ada dalam keadaan penuh/prima untuk mempercayai rencana Tuhan terlaksana dalam hidup kita?

        I.            Tuhan adalah tetap Tuhan pada diri-Nya dan bukan pada ‘sekedar tindakan’-Nya.

Prasangka Israel adalah ketika mereka berhadapan dengan kuasa dari bangsa-bangsa sekitar, maka seharusnya Tuhan tampil sebagai pembebas dengan kuasa yang lebih besar dari apa yang mereka lihat.  Anehnya, Tuhan justru tampil sebagai ‘hamba yang menderita’.  Sering sekali kita membuat premis yang kurang lebih sama dengan Israel.  Ketika kita mengimani Tuhan sebagai yang maha hadir, maka kita menuntut Tuhan untuk tidak boleh absen dari penglihatan kita; seolah-olah ketidak mampuan dan ketidak pekaan inderawi kita untuk menangkap kehadiran Tuhan membuktikan bahwa Ia tidaklah maha hadir.  Hal yang sama sering juga kita terapkan untuk natur-Nya yang lain misalnya: Maha kuasa, Maha kudus, Maha adil, Maha kasih dan lain sebagainya.  Intinya sering sekali kita menyederhanakan Tuhan hanya dalam keterbatasan persepsi inderawi kita untuk menangkap Tuhan.  Kita menyederhanakan Tuhan hanya dalam keterbatasan ‘tuntutan’ kita yang sebenarnya hanya menginginkan Ia bertindak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

      II.            Tuhan adalah tetap Tuhan pada diri-Nya sekalipun jalan-Nya unlogical.

Israel melihat bahwa dibutuhkan kekuatan bala tentara yang super besar yang melebihi heroiknya pahlawan-pahlawan Mesir, Babel dan Asyur untuk melepaskan mereka.  Logikanya sederhana, untuk menghadapi 1000 kereta perang musuh maka paling tidak dibutuhkan 1001 kereta perang untuk mengalahkannya.  Intinya adalah Tuhan harus terlihat lebih besar agar Ia sanggup mengatasi masalah-masalah besar.  Jalan Tuhan haruslah sebuah jalan lurus, lebar dan mulus agar bisa dilalui Israel menuju kelepasan dan kemerdekaan.  Bukankah hal seperti ini juga yang menjadi presuposisi kita terhadap Tuhan.  Ketika kita membutuhkan uang 10 juta untuk operasi kanker, maka Tuhan yang baik adalah Tuhan yang menyediakan minimal 10 juta agar operasi berjalan sukses.  Tuhan itu kita anggap baik ketika Ia menjadi logicaly, sering sekali ini yang sesungguhnya menjadi pengakuan iman kita, walaupun yang sering kita ucapkan adalah Aku percaya …(dst) – dari pengakuan ini seharusnya tindakan Aku percaya adalah tindakan tanpa syarat apapun yang harus dipenuhi Tuhan agar ia tetap menjadi Tuhan bagi kita..  Apakah Tuhan harus logicaly agar Ia tetap menjadi Tuhan?  Ternyata tidak, sebab Tuhan adalah tetap Tuhan pada diri-Nya sendiri sekalipun jalan-Nya tidak bisa diprediksi.

    III.            Tuhan adalah tetap Tuhan pada diri-Nya sehingga ketetapan-Nya tidak bisa dipengaruhi apapun.

Secara pasti kita semua akan mengamini bahwa Allah adalah satu-satunya pribadi yang tidak membutuhkan penasehat.  Hikmat-Nya tidak pernah meleset; penilaian-Nya tidak pernah keliru; rancangan-Nya tidak pernah kurang; hingga akhirnya apa yang telah Ia tetapkan tidak mungkin berubah.  Hal ini merupakan kebenaran umum yang dilaporkan Alkitab pada kita dan kita pun mengamini bahwa Allah adalah pribadi yang ketetapan-Nya tidak mungkin berubah, Ia adalah Allah yang selalu benar pada dirinya sendiri.  Namun demikian, bagaiman ketika kita diperhadapkan dengan realita: Allah mengasihi Israel, dan berjanji untuk memelihara Israel; namun bukankah pada kenyataannya Israel selalu berpaling dari Allah kepada Baal? Dan bukankah Tuhan pun tak henti-hentinya murka dan menghukum mereka?  Jadi, apakah Allah dalam hal ini tidak berubah?  Atau misalnya teks-teks Alkitab yang secara terbuka berkata: “menyesallah Allah” (Kej. 6:6; Kel. 32:14; 2 Sam. 24:16; Yer. 18:8, 10; Amos 7:3, 6; Yunus 3:6), bukankah telah mengindikasikan bahwa Allah pun sering tidak konsisten dengan diri-Nya sendiri.  Hal ini pun sering sekali membuat kita akhirnya berkompromi dengan dosa, karena merasa bahwa tidak mungkin Tuhan menghukum saya hanya oleh karena 1 kali perbuatan dosa.  Dan bukankah realitany: setelah berulang kali kita tidak setia dan mengingkari ketetapan-Nya, bahkan sampai sekarang pun kita tidak pernah dihukum Tuhan; dan tidak jarang orang yang telah jelas-jelas menentang Tuhan, malah terlihat hidupnya lebih makmur.

Apakah Tuhan berubah?  Inilah konsep yang diluruskan oleh Paulus atas apa yang dipahami jemaat Korintus.  Ia berkata: “Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan (2 Kor. 2:15-16a).  Sesungguhnya ketetapan Allah tidak berubah, ketika ia berelasi dengan manusia berdosa, maka relasi itu adalah relasi dalam ‘bau kematian’, sedangkan bagi yang memelihara relasi dalam ketaatan kepada-Nya, maka relasinya ada dalam ‘bau yang menghidupkan’.  Allah tidak pernah berubah, namun dalam ketidak berubahan-Nya itu, Ia menuntut kita untuk senantiasa mengubah relasi kita dengan-Nya yang semakin hari semakin hangat, intim, dekat, setia serta taat.  Intinya:  saat kita tidak sedang berelasi dengan ‘bau yang menghidupkan’ dari Allah, maka kita sesungguhnya sedang berelasi dengan ‘bau kematian’-Nya.

Dalam ketiga konteks inilah Allah sedang melaksanakan rencana-Nya dalam kehidupan kita, dan kepada kita diperhadapkan pilihan untuk mau berada di sisi mana?  Selamat Tahun Baru


[1] Sebutan besar maupun kecil bukan merujuk pada pengaruh atau otoritas, melainkan pada rentang waktu atau masa pelayanan/hidup dari nabi tersebut.

 

-apg-