Pengharapan di tengah Kesulitan

Yesaya 54:1-6

Hidup Kristen adalah pertarungan dalam pengharapan.  Pertarungan oleh karena sering sekali kita diperhadapkan dengan realita pergumulan bukan lagi memilih untuk beriman atau tidak, tetapi pertarungan bagaimana caranya agar iman itu efektif di tengah-tengah kesulitan. Sebuah arena pertarungan dimana Tuhan ‘secara sengaja’ menempatkan kita sampai pada ‘batas akhir’ kemampuan kita; bahkan terkadang Ia memasukan kita dari arena satu ke area pertarungan lainnya, yang dalam realita kerapuhan kemanusiaan kita diperhadapkan dengan kebingungan oleh karena kita tidak mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan pada kita.  Tidak jarang kita melihat ada orang beriman yang berjuang bertahun-tahun dengan sakit cancer dan akhirnya ia meninggal juga.  Dalam realita yang sulit dan tak terpahami seperti ini, apa sebenarnya pengharapan itu?  Bagaimana kita membahasakan iman kepada Tuhan, ketika iman itu sendiri kita jumpai dalam kegelisahan?  Apa yang hendak Tuhan singkapkan kepada kita, disaat Ia membawa kita dalam batasan akhir perjuangan iman?   Sering sekali kita mengakhiri perjuangan iman dengan kepasrahan bukan karena percaya tapi karena keputus asaan.  Namun, Yesaya menolong kita memahami bagaimana agar tetap berpengharapan walau di tengah kesulitan.

Nama kitab ini sesuai dengan nama nabi yang menyampaikan pesan  ilahi  di  dalamnya,  yaitu  Yesaeyah.  Walaupun  nama  ini  sudah  sangat  populer  sebagai nama kitab, namun nama Yesaya  sendiri di dalam Alkitab  seringkali memakai bentuk yang lebih  panjang,  yaitu  Yešaeyāhû.   Nama  Yešaeyāhû  memiliki  arti  “keselamatan  dari Yahweh” atau  “Yahweh  adalah  keselamatan”.  Dengan demikian tema pengharapan merupakan tema sentral dari kitab ini yang langsung dihubungkan dengan pribadi Mesias yang akan datang dan menderita sebagai ganti umat-Nya (Yes. 53:4-6).  Dua prinsip penting berkenaan dengan aspek pengharapan dalam kitab Yesaya dapat dilihat sebagai berikut:

1.   Pengharapan harus dilepaskan dari jangkauan akali.

Ayat 1-4 sering sekali diartikan dalam batasan akal.  Membaca ayat 1-4 ini sering diartikan sebagai (ay. 1, 4) realita orang yang mandul kemudian dilepaskan kemandulannya oleh Tuhan hingga ia memiliki banyak anak, dan memang banyak bukti yang bisa kita ambil dari dalam Akitab, misalnya: Sarah, Ribka, Elisabeth dan lain-lain; (2, 3) realita bahwa kita akan menjadi orang-orang penting dan akan mendapatkan posisi karier yang terus menanjak, misalnya: Yusuf, Yakub, Daud dan lain-lain.  Memang tafsiran itu tidak salah, namun apabila diperhatikan dalam keseluruhan kitab Yesaya, maka bukan itu maksud dari nabi Yesaya.  Dan sesungguhnya bukan pengharapan seperti itu yang sedang Tuhan janjikan kepada Israel dan juga kepada kita saat ini.  Pengharapan yang Tuhan janjikan adalah pengharapan yang jauh diluar batas-batas akali, sebab hanya dengan cara itulah kita bisa mengalami pengharapan yang unik, yang ada dalam kitab Yesaya dan bahkan yang hanya ada dalam pengalaman iman kita bersama dengan Tuhan.  Pengalaman seperti ini tidak akan dijumpai dalam diri orang yang tidak mengenal Yesus secara pribadi.Ayat 1-4 harus dipahami dalam terang ayat 5, bahwa pengharapan yang dimaksud Tuhan adalah pengharapan yang sifatnya spiritual.  Pengharapan yang memungkinkan kita mengalami persekutuan terus menerus dengan Tuhan.  Pengharapan yang membawa kita dalam persekutuan dan pengenalan yang dinamis dengan Tuhan.  Pengharapan yang bahkan mengikat kita menjadi milik Allah yang telah menebus kita.

Contoh sederhana dari kebenaran ini dapat kita temukan dalam kitab Rut.  Saat Rut menjadi janda dan ikut serta Naomi kembali ke Betlehem, maka ada hukum yang berlaku yaitu Rut harus menikah (ditebus) oleh kerabat terdekat mereka agar nama, status, dan warisan keluarga tidak jatuh pada orang lain.  Boas pun menjumpai seorang kerabat yang lain dan akhirnya menebus Rut bagi dirinya (baca Rut 4:5-17).

Sebagai orang-orang yang telah ditebus Tuhan menjadi milik bagi-Nya, maka pengharapan kita bukan lagi pengharapan yang sifatnya bendawi, dan temporal; namun pengharapan kita adalah pengharapan spiritual dan keintiman dengan-Nya

2.   Pengharapan harus diselaraskan dengan rancangan ilahi.

Dalam bahasa kita harapan sebenarnya sering diartikan sebagai keinginan atau kebutuhan.  Ketika kita berkata misalnya: saya beriman memiliki pekerjaan tetap agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga, maka sebenarnya yang dimaksud adalah oleh karena kebutuhan keluarga yang sudah tidak teratasi dengan penghasilan  saat ini, maka kita ingin agar penghasilan kita bertambah atau paling tidak tetap pada setiap bulannya.  Dan rupanya dalam bahasa nabi Yesaya, keinginan atau kebutuhan tidak bisa dibahasakan sebagai pengharapan atau sikap beriman.  Sebab dalam pemikiran nabi Yesaya, pengharapan itu adalah saat kita membiarkan diri kita diselaraskan dengan tujuan Allah.  Memang kedengarannya pasif, namun sesungguhnya yang sedang dimaksud oleh nabi Yesaya adalah sikap menanti dengan sabar, yang terus bergumul dan mencari kehendak dan rancangan Tuhan dalam hidup kita.  Dengan demikian, pengharapan yang dimaksud oleh Yesaya adalah beriman dalam keaktifan menanti, taat, serta membuka indera rohani kita terus menerus untuk mencari tau apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita.  Pengharapan ini terus bertanya apa tujuan yang hendak Tuhan capai melalui hidup saya.  Tuhan Yesus secara jelas berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

(Mat 11:28-30), sering sekali kita membaca ayat tersebut hanya pada ayat 28 aja dan kemudian kita berhenti seraya berkata: ‘cukup, ayat ini saja yang Tuhan ingin sampaikan pada saya’; justru kita tidak akan mengalami realita iman yang bertumbuh, dan sangat mungkin Tuhan akan membawa kita pada arena perjuangan iman yang berikutnya hingga akhirnya kita dengan rela mengaminkan ayat 29-30.  Dalam konteks pengharapanlah kalimat tersebut disampaikan oleh Tuhan Yesus.  Pengharapan agar kita secara aktif menanti, taat, serta membuka indera rohani kita terus menerus untuk mencari tau apa yang ingin Tuhan kerjakan dalam hidup kita.

Pengharapan yang sejati adalah saat kita mampu menangalkan keinginan pribadi dan menggantikannya dengan keinginan Tuhan.  Prinsip ini mudah untuk diucapkan, apalagi di dengar, namun rupanya butuh iman yang aktif menanti, taat, serta membuka indera rohani agar kita  tau apa yang Tuhan inginkan dari hidup kita.

 

 

 

–apg–

Iklan
Pos Sebelumnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: