Tak Berhenti Menikmati Kemurahan Allah

Roma 12: 1

Saya percaya bahwa kita adalah penikmat kemurahan Tuhan, walaupun dalam level tertentu kita hanya mampu menikmatinya dalam bahasa fisik.  Dalam bahasa yang terungkap oleh mulut kita sering berkata: ‘saya hidup oleh kemurahan Tuhan’, dan memang kebanyakan orang percaya senang mendengarnya dan mungkin para rohaniawan akan memsejajarkan kita menjadi selevel dengannya.  Padahal sesungguhnya yang kita maksudkan dengan ungkapan: ‘saya hidup oleh kemurahan Tuhan’ adalah hidup dalam karier yang menanjak, tidak pernah sakit, tidak ada resesi keuangan dan hal-hal yang juga diimpikan oleh mereka yang diluar Kristus.  Apabila kita masih berkanjang dalam perspektif ini, maka sesungguhnya kita bukanlah penikmat Kemurahan Allah.  Kenapa demikian: ‘analogi anak kecil dengan mainan barunya’.  Seorang anak kecil ketika diberikan mainan yang sangat ia idamkan tentu saja akan memperlakukan mainannya tersebut dengan sangat istimewa, namun coba perhatikan apa yang terjadi dengan mainan tersebut lama setelah itu?  Rusak.  Inilah analogi penikmat kemurahan Tuhan dalam level kanak-kanak, selalu ingin yang baru sesuai dengan keinginan, sehingga Tuhan ditempatkan sebagai mesin ATM, yang selalu harus menghasilkan uang pada saat diinginkan.  Penikmat kekanak-kanakkan bukanlah penikmat sejati.

Paulus hendak membawa jemaat Roma pada level menjadi dewasa dalam menikmati kemurahan Allah: pertama, mampu hidup dalam perubahan yang dihasilkan oleh Roh Kudus; kedua, menikmati keseluruhan kasih karunia pelayanan yang Tuhan berikan guna melayani jemaat Tuhan (12:3-8); ketiga, menikmati kasih kepada sesama (12:9-21); keempat, menikmati hidup diperintah oleh pemerintahan dunia (13:1-7), dan seterusnya.  Pertanyaan pentingnya, apakah kita tetap bisa menikmati kemurahan Tuhan dalam konteks penolakan, kepahitan, disepelekan? Mungkin saya pun juga tidak siap, namun pada level inilah kita akan merenungkan Roma 12:1 ini.  Bagaimana caranya kita bisa menikmati kemurahan Tuhan sebagai seorang dewasa dan bukannya sebagai kanak-kanak?

Pertama, kemurahan Tuhan hanya bisa dinikmati orang yang mampu menaruh cinta pada-Nya ‘lebih dari yang lain’[1].  Mari memikirkan sebuah logika sederhana: semua orang menikmati kemurahan yang sama, matahari, bulan, bintang, hujan, alam namun hanya sedikit orang yang mampu menikmati ‘sesuatu’ di balik adanya matahari, bulan, bintang, hujan, alam.  Semua orang bisa menikmati karier yang menanjak, tidak pernah sakit, tidak ada resesi keuangan, namun hanya sedikit orang yang mampu menikmati ‘sesuatu’ dibalik karier yang menanjak, tidak pernah sakit, tidak ada resesi keuangan.  Mungkin sedikit orang bisa menikmati sakit, penderitaan, penolakan, kepahitan dan disepelekan, namun lebih sedikit lagi orang yang mampu menikmati ‘sesuatu’ di balik adanya sakit, penderitaan, penolakan, kepahitan dan disepelekan.  Dengan demikian benarlah apa yang dikatakan oleh C.S Lewis: ‘mereka yang tidak memiliki apa-apa tidak dapat memberikan apa-apa; mereka yang tidak pergi ke mana-mana tidak akan mempunyai teman seperjalanan’.[2]  Sederhananya: mereka yang tidak serius mencintai Tuhan, mereka juga tidak pernah secara serius berusaha menikmati keseluruhan kemurahan Tuhan.

Apakah kita mencintai Tuhan?  Kita pasti menjawabnya amin.  Ironisnya, inilah pertanyaan yang sama yang dulu pernah ditanyakan oleh Tuhan sendiri pada Petrus.  Apakah Petrus berani berkata amin (seperti kebanyakan kita)?  Tidak, sebab ia sadar bahwa cintanya akan Tuhan terus dibatasi oleh ketidakmampuan dan keterbatasan.  Namun apakah keterbatasan ini menyebabkan ia berhenti mencintai Tuhan? Tidak juga, sebab dari keterbatasan cintanya, ia mampu memberikan cintanya kepada Tuhan lebih dari yang lain, bahkan lebih dari kita semua (mungkin).

Sejarah menunjukan cinta akan Tuhan yang lebih dari yang lain, misalnya saja: Sung Siong Geh, Umur 18 tahun kuliah S1 Kimia di Wesleyan University di Ohio, S2 (9 bulan) dan S3 (18 bulan) di Ohio State University lulus dengan predikat summa cumlaude.  Ia kemudian membuat keputusan radikal dengan meninggalkan itu semua dan masuk sekolah teologi di Union Theological Seminary, hasilnya: dalam 193 hari ia berhasil membuat analisa eksegesa dari Kej. 1 – Why 22 (1.189 pasal) dengan 40 sudut pandang berbeda (justru dalam keadaan sakit).  Menjadi penginjil di China, Thaiwan dan Indonesia yg kemudian di kenal dgn nama sapaan: John Sung.  Kenapa John Shung mampu melakukannya?  Karena ia mengenal siapa yang Ia layani.  Bagaimana ia bisa melakukannya? karena ia mampu mencintai Tuhan lebih dari yang lain.

Inilah rahasia terdalam dari kemurahan Tuhan, adalah fakta bahwa kemurahan-Nya diberikan kepada semua manusia, namun disisi lain, kemurahan itu hanya bisa dinikmati oleh orang yang menaruh cinta pada-Nya lebih dari yang lain.  Jika demikian: apakah kemurahan Tuhan bersyarat?  Tidak, sebab Ia memberikannya pada seluruh ciptaan-Nya dan bahwa tidak ada kontribusi apapun dari manusia yang mensyaratkan dirinya sendiri sebagai penerima kemurahan Tuhan ini pun adalah kebenaran biblikal.  Namun kita juga harus ingat fakta bahwa Tuhan memberikan kemurahan kepada manusia adalah hal yang berbeda dengan menjadi manusia yang menikmati kemurahan Tuhan.  Paulus sendiri berkata: ‘malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus … (sebab), yang kukehendaki adalah mengenal Dia …’.[3]  Dari manakah kita mulai belajar mencintai Tuhan lebih dari yang lainnya?  C.S Lewis memberi analogi sederhana: ‘orang-orang yang bosan satu sama lain tentunya jarang bertemu; orang-orang yang tertarik satu sama lain, sering bertemu’.[4]  Pertanyaannya: kapan terakhir kali kita menikmati bertemu dengan Tuhan?  Kapan terakhir kali kita dari atas mimbar begitu berantusias menyuarakan dan mempercakapkan perihal kekasih kita tersebut?  Selama kita masih berkhotbah layaknya ‘pildacil’ sesungguhnya kita bukanlah penikmat kemurahan Tuhan.  Sebab kemurahan Tuhan hanya bisa dinikmati orang yang mampu menaruh cinta pada-Nya lebih dari yang lain.

Kedua, kemurahan Tuhan hanya bisa dimiliki oleh orang yang mampu melepaskan haknya lebih dari pada yang lain.  Berbicara mengenai hakekat kehidupan kita akan bertemu dengan berbagai pengertian:  Bagi para filsuf hakekat kehidupan adalah kesudahan/kematian, bagi para agamawan hakekat kehidupan adalah langkah menuju kehidupan lain, bagi para ekonom hakekat kehidupan adalah memberi makna atas sejumlah materi yang dapat diraih.  Bagi para scientific hakekat kehidupan adalah sebuah sikluas materi dan immateri.

Apa hakekat kehidupan menurut Paulus?  Jawabannya sederhana: ‘mempersembahkan’, namun dari jawaban sederhana ini terangkai kompleksitas dan keruwetan serta kemustahilan bagi kita manusia modern untuk melakukannya, yaitu mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini dalam keadaan hidup, kudus dan berkenan.  Kenapa menjadi sulit?  Sebab hanya dengan memiliki tubuh (σῶμα) ini kita bisa menunjukan eksistensi kita, kita bisa menikmati 1001 tawaran dunia, kita bisa membuat pilihan atas kebutuhan dan keinginan kita.  Hal-hal ini hanya merupakan sebagian kecil dari alasan-alasan kesulitan kita dalam mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini.  Atau mungkin kita akan berkata: saya sudah mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini tatkala saya mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan.  Jangan lupa bahwa dalam hal ini pun pemazmur telah jauh melampaui kita ketika ia berkata: ‘sekalipun dagingku (tubuh [σῶμα] ini) dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya’.[5]

Jadi apakah kita telah mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini?  Mungkin tidak, sebab seringkali kita hanya meminjamkan tubuh (σῶμα) ini untuk dipakai Allah; atau bisa saja kita hanya memerankan tubuh (σῶμα) ini dalam sebuah sandiwara rohani dalam komunitas hamba-hamba Tuhan.  Namun kita lupa bahwa hakekat hidup dalam kemurahan Tuhan adalah mempersembahkan.

Apa arti mempersembahkan?  Istilah yang digunakan adalah παραστῆσαι (verb infinitive aorist active from παρίστημι) yang berarti saya meletakkan diri saya dalam partisipasi intim dengan Tuhan[6] sehingga saya hanyalah menjadi miliknya yang utuh, yang dikhususkan dan yang disukai oleh Allah. Sederhananya: mempersembahkan berarti kita membiarkan Allah yang menjadi tuan yang berhak sepenuhnya atas hak kita.  Inilah persembahan sejati dari seorang hamba.  Apakah saya telah mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini?  Mungkin saja tidak.

Mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sadar bahwa kehidupan serta segala buah kehidupan adalah milik Tuhan yang dititipkan-Nya selama kita masih tinggal di dunia ini.  Sebuah puisi dari W.S Rendra yang berjudul : ‘Makna Sebuah Titipan’[7] menolong saya memahami kehidupan ini.

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan

kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,

ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,
dan

kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,

padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku

hanyalah untuk menyenangkan Engkau…

 

Jadi mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan merupakan konsekuensi dari kemurahan Allah, sebab kemurahan Tuhan hanya bisa dimiliki oleh orang yang mampu melepaskan haknya lebih dari pada yang lain.

Ketiga, kemurahan Tuhan hanya bisa dimaknai oleh orang yang mampu mengambil tanggung jawab lebih dari pada yang lain.  Untuk apa saya dan saudara ada di dunia ini?  Tentu saja kita akan berkata bahwa kita ada disini untuk melayani Tuhan, untuk menyenangkan Tuhan, dan untuk banyak alasan dengan melibatkan nama Tuhan.  Semoga saja begitu.  Kita semua tahu bahwa kita sedang berada di tengah-tengah gerak zaman postmodernism, yang salah satu hasilnya adalah menciptakan perilaku narcissism.  Kenapa demikian, karena di zaman ini anda tidak akan pernah menjadi sesuatu yang dianggap jika tanpa relasi, prestasi dan popularity. Akibatnya, orang yang mengalami masalah dalam perilaku narcissism selalu merasa tidak mampu hidup tanpa pujian dan kekaguman dari orang lain,[8] ia menjadi sangat peka terhadap kekurangan dan cacat cela yang ada pada dirinya yang justru kepekaan yang berlebihan tersebut membuatnya berusaha menutupnya dengan cara yang tidak wajar yaitu dengan cara terus-menerus mencari penggemar dan pujian dari orang lain.[9]

Celakanya, Andre Bustanoby dalam risetnya menemukan bahwa banyak sekali orang Kristen yang memilih profesi menjadi hamba Tuhan oleh karena kecenderungan akan perilaku narcissism.[10] Kenapa demikian? Alasan utamanya adalah dengan jalan seperti itu ia bisa bersembunyi di balik simbol-simbol ilahi:  Menutup dirinya yang sebenarnya sakit dengan ‘fenomena’ otoritas ilahi, membangun kesetiaan pengikut pada dirinya untuk menutupi ketidak setiaan yang mungkin saja ia lakukan pada orang-orang terdekatnya.

Bagaimana mengatasinya?  Paulus berkata: itu adalah ibadahmu yang sejati.  Inilah pusat dari teologi Kristen.  Teologi yang tidak lai diartikan secara sederhana sebagai ilmu yang mempelajari tentang Tuhan melalui setiap gejala-gejalanya, namun harus sampai pada tahap teologi sebagai pertanggung jawaban iman.  Apa maksudnya?  Bahwa penyerahan diri kepada Tuhan berarti kesediaan mengambil tanggung jawab.  Bahwa setiap orang percaya yang sadar bahwa hidupnya adalah hasil dari kemurahan Tuhan, akan mencintai Tuhan lebih dari pada yang lain, akan secara sadar menyerahkan tubuhnya dalam hak penentuan dan penetapan Tuhan, tetapi juga yang terpenting adalah ia akan secara sadar aktif mengambil bagian dalam tanggung jawab, karena hari-hari setelah menerima kemurahan Tuhan merupakan hari-hari ibadah yang tidak pernah akan berhenti.

Tapi apa maksudnya: kemurahan Tuhan hanya bisa dimaknai oleh orang yang mampu mengambil tanggung jawab lebih dari pada yang lain?  Francis Chen[11] menolong kita memahami perkara sulit ini.  Bagi Francis Chen, justru keberhasilan dalam pelayanan merupakan kegagalan apabila ia hanya terfokus pada hal-hal yang bersifat kuantitas, baginya bertanggung jawab sebagai penerima kemurahan berarti membiarkan dirinya menjadi semakin tidak populer dan menjadikan nama Tuhan sebagai pribadi yang paling dekat dengan jemaat.  Bukankah kita sering menyanyikan ini?  Dia harus makin bertambah – ku harus makin berkurang, nama Yesus saja disembah ku di tempat paling belakang, dst.

Jadi apa yang harus kita lakukan?  Belajarlah mengambil bagian dalam tanggung jawab.  Ada banyak hal yang dapat anda kerjakan di dunia ini, entahkan anda sebagai pejabat negara (di daerah), pengayom masyarakat (dalam konteks Sitaro), dan lain sebagainya.  Tantangannya adalah apakah anda siap mengambil dan melaksanakan tanggung jawab itu dengan tanpa harus diketahui oleh orang lain bahwa anda sedang melakukannya?  Apabila anda berani melakukannya, maka anda sedang menikmati kemurahan Tuhan dalam cara yang unik yang berbeda dengan yang lain.  Ingatlah bahwa:

1.         Kemurahan Tuhan hanya bisa dinikmati orang yang mampu menaruh cinta pada-Nya lebih dari yang lain.
2.         Kemurahan Tuhan hanya bisa dimiliki oleh orang yang mampu melepaskan haknya lebih dari pada yang lain.
3.         Kemurahan Tuhan hanya bisa dimaknai oleh orang yang mampu mengambil tanggung jawab lebih dari pada yang lain.

 

[1] Lebih dari yang lain tidak bermaksud untuk kita saling berkompetisi dengan orang lain, namun untuk melihat yang lain itu justru dari dalam diri masing-masing kita.

[2] C.S Lewis, Empat Macam Kasih (Bandung: Pioner Jaya, 2010), 86.

[3] Filipi 3:8a, 10a.

[4] Lewis, Empat Macam, 104.

[5] Mazmur. 73:26.

[6] Diunduh dari http://concordances.org/greek/3844.htm pada Senin, 17 Oktober 2011.

[7] Diunduh dari http://www.puisi.org/2008/03/04/makna-sebuah-titipan/ pada Senin, 17 Oktober 2011.

[8] Otto Kernberg, ‘Why Some People Can’t Love’ dalam Psychology Today, Juni 1978, 55.  Seperti yang dikutip oleh Yakub Susabda, Pastoral Konseling, vol. 1: Pendekatan Konseling didasarkan pada Integrasi antara Psikologi dan Teologi (Malang: Gandum Mas, 2009), 21.

[9] Susabda, Pastoral, 21.

[10] Andre Bustanoby, ‘The Pastor and the Other Woman’ dalam Christianity Today, Agustus 1974, 7-10.  Seperti yang dikutip oleh Susabda, Pastoral, 21.

[11] Francis Chan is the founding pastor of Cornerstone Church in Simi Valley, CA, starting the church in 1994. In May 2010, he left Cornerstone to work directly in mission with the poor locally and internationally.  Diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Chan pada Senin, 17 Oktober 2011.  Pada akhirnya, ia undur dari pelayanan tersebut oleh karena ia mendapati bahwa jemaatnya lebih sering membicarakan perihal keberhasilan dirinya dibandingkan dengan Tuhan Yesus sendiri.

 

 

–apg–

Iklan
Pos Berikutnya
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: