Bebalnya Diri ini

Matius 16:1-4

 Setiap manusia memiliki mekanisme keamanan atau perlindungan diri; baik secara fisik maupun mental.  Secara fisik misalnya: saat kita sedang mengendarai motor dan melewati jalan berdebu maka kelopak mata akan menutup secara otomatis guna melindungi mata.  Kita pun akan takjub dengan bagian lainnya dari diri kita yang tercipta dalam mekanisme keamanan atau perlindungan diri.  Hal yang sama juga telah Tuhan ciptakan dalam aspek moral kita.  Adam dan Hawa diciptakan dalam benih ilahi yang memiliki kepekaan spiritual (Calvin menyebutnya sebagai sensus devinitas).  Kepekaan spiritual ini dianugerahkan Tuhan kepada seluruh manusia ciptaan-Nya, sebab kita tidak mungkin dapat melarikan diri dari fakta eksistensi Tuhan.  Kemanapun, kapanpun, bahkan dimanapun kita melarikan diri Tuhan tetap sanggup menjangkau manusia (Luther menyebutnya dengan coram deo), entahkan itu dengan anugerah kasih atau anugerah hukuman.

Bersamaan dengan benih ilahi berupa kepekaan spiritual, Tuhan juga memberikan benih manusiawi yaitu kehendak bebas.  Adanya kehendak bebas, maka kita menjadi ciptaan yang berbeda dengan ciptaan lainnya.  Kita memiliki kemampuan untuk mengamati, menganalisa, memilih, memutuskan bahkan mengikatkan diri pada keputusan tersebut.  Sehingga saat manusia memuji dan menyembah Tuhan pertama-tama oleh karena kita memiliki sensus devinitas atas Allah yang tak terhindarkan (coram deo), namun juga oleh karena kesadaran akan tanggung jawab hidup yang efektif dan bernilai (dalam pengertian yang sangat sederhana kita mengenalnya dengan insting).

Sayangnya, kehendak bebas yang seharusnya bersinergis dengan kepekaan spiritual justru menjerat manusia dalam kenikmatan badani belaka.  Ada orang yang dengan mudah menghancurkan karier masa depannya dengan pil extacy, meninggalkan keluarga yang bahagia demi kenikmatan sesaat dari sex, menjual harga dirinya demi alasan mendapatkan uang banyak secara mudah dan masih banyak lagi contoh-contoh yang terlihat disekitar kita.  Manusia kehilangan rasa malu ketika melakukan perbuatan tercela, semakin berani untuk melakukan pelanggaran, dan bahkan punya banyak sekali cara untuk membenarkan perbuatan tidak terpujinya.

Inilah yang sedang Tuhan Yesus katakan kepada para ahli Farisi dan Saduki: “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak (Mat 16:2-3 ITB).

Sering sekali kita mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi bukannya memilih yang baik dan menolak yang buruk kita malah melakukan sebaliknya.  Paulus, dalam pengalaman pribadinya berkata: “aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.  Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat  (Rom 7:14-15) … Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat  (Rom 7:18-19).

Lihatlah apa yang terjadi dengan Adam dan Hawa.  Mereka memiliki kelimpahan dalam segala hal: hidup dalam taman yang sungguh amat baik dalam keteraturan ciptaan Tuhan, memiliki kepercayaan diri yang paling maksimal, menikmati makan dan minum yang sehat serta memenuhi segala kebutuhan fisik mereka.  Namun demikian, mereka menukarkan itu dengan keinginan bodoh untuk menjadi sama seperti Allah.  Mirip halnya dengan Esau: menjadi pewaris hak kesulungan, tumbuh sebagai pria sejati, serta mendapat kasih dari ayahnya itu tidak serta merta membuatnya sanggup menolak tuntutan rasa laparnya.  Ia menukar itu semua dengan semangkuk sop kacang merah.  Apa yang terjadi dengan Daud?  Hidup sebagai orang yang paling dikasihi Allah, memiliki kuasa penuh atas kerajaan dan dunia, didukung oleh para pahlawan gagah perkasanya, dicintai oleh seluruh rakyatnya serta ditakuti para lawannya.  Justru saat ia sedang berada pada puncak kariernya, ia jatuh dalam perselingkuhan dengan istri pegawai setianya.  Masih banyak lagi contoh lainnya, yang pada akhirnya semua mengalami hukuman dari Tuhan.

Bagaimana dengan kehidupan kita?  Apakah kita telah cukup lebih baik?  Rasa-rasanya tidak.  Memang kita sudah mengalami keselamatan yang dari Allah, mendapat anugerah dalam pengorbanan Kristus, dimateraikan sebagai pewaris kerajaan Allah, dipersekutukan dalam persekutuan beriman, namun ternyata sering sekali kehendak bebas merusak kepekaan spiritual kita.  Jika demikian, bagaimana caranya kita bersikap: apakah lebih baik bagi kita untuk menjadi robot saja yang diprogram hanya untuk berkata: haleluya, Puji Tuhan!  Atau memprogram software yang membuat diri kita hanya melakukan kebaikan dan kebenaran belaka.  Tentu saja tidak.  Tuhan memberikan kepekaan  spiritual dan kehendak bebas agar kita menjadi manusia seutuhnya yang mandiri dan bertanggung jawab.

Paulus menolong kita secara praktis ketika ia berkata: “ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.  Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus (Ef 6:13-18).

Bukan hanya kita dan seluruh orang percaya yang saling mendoakan agar setiap kita sanggup hidup dalam kehendak bebas yang bersinergis dengan kepekaan spiritual tapi Tuhan Yesus terus berdoa bagi kita agar kita hidup dalam hidup yang lebih efektif dan mempermuliakan Tuhan.  Kiranya semakin hari kita menjadi semakin dewasa dan mampu menghilangkaan kedegilan kita dan menggantikannya dengan kehidupan yang bersinergis antara kehendak bebas dan kepekaan spiritual.  Tuhan menolong kita melakukannya, Amin.

 

-apg-

Iklan
Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: