Foto Wisudawan Tahun 2012

data2 wisudawan 1Data Wisudawan 2

Iklan

Supaya Kita Sempurna Menjadi Satu

Yohanes 17:20-23

Pendahuluan:

Tema ini sudah bukanlah sesuatu yang asing bagi kita.  Kita bahkan telah memahaminya secara mendalam sejak awal.  Pada saat sekolah minggu kita diberitahu bahwa kita diciptakan dalam satu gambar dan satu rupa dengan Allah.  Lebih meningkat lagi, kita tahu bahwa kita dipersekutukan dengan sesama orang percaya dari segala tempat dan sepanjang abad dalam satu persekutuan tubuh Kristus.  Saat akan menikah, kita mendapat pemahaman mengenai menjadi satu daging.  Bahkan saat ini pun kita berada dalam satu komunitas yang bernama STT Skriptura

Namun demikian, bukankah dalam realita menjadi satu kita kerap kali mendapati kesalah pahaman di dalamnya.  Jika memang kita satu gambar dan satu rupa dengan Allah: mengapa sulit sekali bagi kita untuk mengenal maksud dan tujuan Tuhan dalam hidup kita?  Jika memang kita adalah satu persekutuan tubuh Kristus dengan sesama orang percaya dari segala tempat dan sepanjang abad: mengapa mudah sekali sesama anggota gereja berselisih paham untuk hal-hal yang mungkin saja sepele?  Jika memang kita dengan pasangan kita adalah satu daging: mengapa ada perceraian, pertengkaran dan atau perselingkuhan?  Mengenai komunitas kita, saya bukan menyangsikan kualitas kesatuan kita, namun bukan berarti kita lepas dari bahaya perpecahan.  Sudah banyak lembaga kristiani yang merasa dirinya aman dan akhirnya pecah juga.  Untuk itulah perenungan ini menjadi penting

Rupanya memiliki pemahaman yang baik dan benar akan pengertian menjadi satu belumlah cukup sebelum kita merealisasikannuya dalam realita berelasi satu dengan yang lainnya.  Inilah maksud Tuhan Yesus ketika berkata untuk yang ketiga kalinya: supaya mereka sempurna menjadi satu.  Tantangannya adalah bagaimana kita menghayati kesatuan itu dalam sebuah persekutuan yang saling berelasi?  Bagaimana kita bertumbuh sempurna menjadi satu saat kita berelasi satu dengan yang lainnya?  Seperti apa kita berelasi dengan orang lain sehingga sempurna menjadi satu?

Pertama, relasi adalah anugerah yang harus terus kita gumuli.  Menarik ketika kita menyimak doa Tuhan Yesus ini, kita mendapati bahwa satu-satunya analogi yang digunakan oleh Tuhan Yesus akan relasi yang sempurna menjadi satu adalah relasi antara Diri-Nya dengan Bapa.  Bahkan Tuhan Yesus mengulangnya sebanyak 3 kali.

Seperti apakah relasi dalam ke-Allahn itu?  Relasi ke-Allahan adalah relasi yang unik.   Istilah Anak Allah sendiri digunakan untuk menjelaskan relasi kekal yang tak terpisahkan antara Allah dengan Firman Allah yaitu Yesus Kristus.  Disebut Anak Allah oleh karena Yesus adalah tindakan yang keluar dari atau diperanakan oleh Allah.  Ia adalah tindakan atau Firman Allah yang  pada puncaknya berinkarnasi sehingga dapat dilihat dan diraba.

Marthin Luther berkata: saya tidak mengenal Allah baik disurga maupun di bumi selain Allah yang menghadirkan diri-Nya dalam kandungan anak dara Maria. Karena di luar fakta itu Ia adalah Allah yang sama sekali tak terpahami.  Ia memberikan  diri-Nya dapat dipahami hanya dalam kedagingan Kristus.  Menariknya, bahkan relasi diantara Allah Bapa dan Anak Allah juga adalah Allah yaitu Allah Roh Kudus.

Pertanyaannya sudahkah kita menjadi satu dalam relasi yang unik dan otentik seperti ini?  Jika tidak, mengapa Tuhan Yesus justru menggunakan analaogi ini dan mengapa Ia justru berdoa agar kita sempurna menjadi satu?  Saya percaya bahwa ini dilakukan Tuhan Yesus agar kita sadar bahwa relasi adalah anugerah yang harus terus kita gumuli.  Relasi adalah anugerah yang tak terhindarkan namun demikian berelasi dengan orang lain bukanlah perkara mudah.  Berelasi dengan orang lain menuntut kita bergumul dengan diri sendiri secara unik dan tetap menjadi otentik sembari membuka diri untuk bertumbuh secara sehat.  Sebuah pepatah kuno: selama tangan masih terkepal, maka berjabat tangan merupakan sebuah kemustahilan.

Mampukah kita berelasi dengan orang lain dan menjadi semakin sempurna? Tanpa anugerah ini mungkin hanyalah mimpi disiang bolong.  Sebab, bukankah kemanusiaan telah  terjerat dalam diri yang egosentrism: yang ingin jadi pusat perhatian, pusat penghargaan, pusat penerimaan dan pusat pemuasan.  Demikianlah teory hierarchy of need menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.

C.S Lewis berkata: Jika anda memiliki relasi yang benar dengan Dia, anda tidak mungkin tidak memiliki relasi yang benar dengan sesama.

Sama seperti kita harus terus bergumul dalam relasi kita dengan Allah, maka relasi dengan sesama pun merupakan anugerah yang harus terus kita gumuli.  Anugerah yang harus terus digumuli oleh karena kita berelasi dalam diri yang rapuh dan lemah hingga pada akhirnya kita mengalami relasi dalam pengenalan yang sempurna, sama seperti doa Paulus: ‘… sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal (1 Kor. 13:12 b).

Kedua, relasi adalah anugerah yang harus terus digemari.  kenapa harus digemari?  C.S Lewis juga menulis:  “orang-orang yang bosan satu sama lain akan jarang bertemu; sebaliknya orang-orang yang tertarik satu dengan yang lainnya tentunya akan sering bertemu”.  Namun demikian, prinsip sederhana ini ternyata tidak mudah dipraktekkan.  Sebab, bukankah dalam seringnya bertemu seringkali menyebabkan relasi itu menjadi kian hambar dan kehilangan gregetnya lagi.

Kita adalah komunitas beriman, direlasikan oleh dan didalam iman yang satu yaitu kepada Yesus Kristus, yang sejauh ini menempati dunia yang sama.  Dunia adalah konteks dimana kita berelasi satu dengan yang lain.  Dunia memiliki pola atau sistem relasinya sendiri, yang seringkali memberi keuntungan.  Memang kadang kala kita memahami sebatas joke, misalnya saja ungkapan: ada uang abang disayang, tidak ada uang abang melayang.  Atau bisa jadi menjadi agak lebih serius, misalnya saja ungkapan: di dalam politik tidak ada kawan atau musuh sejati, yang ada hanyalah kepentingan sejati.  Apapun itu, jenis relasi yang ditawarkan adalah keuntungan sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri.

Bagaimana caranya kita menjaga relasi dalam konteks seperi ini?  Teruslah berusaha menggemari anugerah ini dan jangan pernah menginginkan model relasi yang ditawarkan dunia.  Sebab, relasi diantara kita di dalam Kristus adalah anugerah yang harus terus digemari.

Uniknya Tuhan Yesus berkata bahwa didalam relasi yang benar (yang telah kita bicarakan pada poin pertama) diantara kita, Ia sengaja menempatkan kita di dalam dunia yang membenci kita (ay. 14), dunia yang jahat (ay. 15), dunia yang tidak memiliki pengenalan akan Allah (ay. 25) dengan tujuan yang jelas dan spesifik yaitu supaya dunia percaya (ay. 21), dan agar dunia tahu (ay. 23) bahwa Yesus diutus oleh Bapa dan  perihal adanya relasi kasih Bapa di antara kita.  Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya supaya dunia percaya (ay. 21), dan agar dunia tahu (ay. 23) bahwa Yesus diutus oleh Bapa dan  perihal adanya relasi kasih Bapa di antara kita?

Ketiga relasi adalah anugerah yang harus dipertanggung jawabkan.  Apakah cara termudah dan murah dalam berelasi dengan orang lain? Memberi senyum.  Apakah itu cukup?  Tidak, sebab kadang senyum sudah menjadi gerak refleks dan spontan.  Kembali pada pertanyaan tadi: bagaimana caranya supaya dunia percaya (ay. 21), dan agar dunia tahu (ay. 23) bahwa Yesus diutus oleh Bapa dan  perihal adanya relasi kasih Bapa di antara kita?  Jelas senyum saja tidak cukup.  Kita harus mengkomunikasikannya, mempercakapkannya, memberitakannya.

Untuk itu kita harus ‘berdialogue’.  Men’dialogue’kan kasih Allah, seperti yang Tuhan Yesus sendiri katakan: “Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yoh 17:25-26 ITB).

Inilah kasih yang harus kita ‘Dia-lo-gue’kan.  Kasih Dia kepada mereka melalui kita.  Artinya setiap kehadiran kita dalam relasi adalah pertanggung jawaban kasih dan kita mampu mencurahkan kasih itu sebagai pertanggung jawaban iman.   C.S Lewis menulis: keistimewaan dari kasih sayang adalah bahwa ia dapat menyatukan mereka yang tampaknya paling tidak mungkin dipersatukan. Di dalam kasih inilah kita harusnya berelasi dan  terus menerus menggemarinya.  Jika tidak demikian, bahkan kita mungkin dapat menjawab pertanyaan yang diajukan Marcell dalam lagunya: “mau di bawa kemana hubungan kita …”

Relasi diantara kita seharusnya adalah relasi yang menghadirkan kasih Bapa, kasih sorgawi, kasih yang nyata dalam tindakan-Nya menciptakan kita dalam satu gambar dan satu rupa dengan-Nya, kasih yang rela memberikan satu-satu-Nya Anak yang dikasihi-Nya, kasih yang masih sama yang menanti kita agar menggemari kasih itu lebih dari pada apa yang ditawarkan dunia.  Kasih sejati meliputi 3 unsur penting: passion, commiment dan intimacy.  Inilah wujud pertanggung jawaban iman kita.

Mampukan kita berelasi dengan orang lain dalam kesatuan yang semakin menjadi sempurna?  Tiga tahapan kesadaran yang harus kita terus hayati:

relasi adalah anugerah yang harus terus kita gumuli.

relasi adalah anugerah yang harus terus digemari.

relasi adalah anugerah yang harus dipertanggung jawabkan.

 

–apg–

Hidup Rukun dengan Semua Orang

Ibrani 12:12-17

 Kita adalah persekutuan dan bukan perkumpulan.  Bersekutu sudah pasti berkumpul namun berkumpul belum tentu bersekutu.  Oleh karena itu nama baru kita adalah ‘persekutuan orang percaya’.  Laki-laki dan perempuan yang bukan hanya sekedar berkumpul, namun bersekutu.  Bersekutu bukan hanya karena kita satu jenis yaitu ‘homo sapiens’, namun oleh karena kita telah dipersekutukan Allah dengan diri-Nya melalui penebusan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.  Namun dalam persekutuan ini, kita tidak hanya merayakan penebusan tersebut, namun kita terus menerus mencoba menghayati dan menghidupkan penebusan itu dalam kehidupan setiap hari.  Dalam persekutuan itulah kita mampu menciptakan kerukunan dengan semua orang.  Sudah pasti kita akan sama-sama mengaminkan bahwa persekutuan kita adalah demonstrasi dari kehidupan yang rukun dengan semua orang.  Kita saling menyapa ‘syalom’ dalam genggaman tangan yang erat, kita saling mengunjungi untuk menguatkan satu dengan lainnya, kita saling mendoakan supaya terpelihara kehidupan spiritual kita, kita bertumbuh melalui pendengaran dan pemberitaan firman agar kita tau bagaimana menjalani kehidupan yang lebih berkenan kepada Tuhan, dan kita kembali ke dalam keluarga kita masing-masing dengan membawa berkat dari Tuhan.  Itu semua hanya akan tercipta dan terwujud apabila kita mengalami hidup rukun dalam persekutuan ini.

Namun demikian, setelah sekian lama kita bersekutu: mengalami pasang surut, berganti sistem, ada yang datang dan ada yang pergi, hingga secara literal dipandang perlu untuk dihayati kembali makna persekutuan kita.  Pertanyaan penting yang masih perlu dan relevan untuk dipikirkan adalah:  mengapa dan bagaimana kita mengalami dan mewujudkan hidup rukun dalam persekutuan kita ini?  Tentu saja pertama-tama dari kelompok kecil hingga dalam persekutuan gereja kita.  Perenungan ini akan menolong kita menemukan jawabannya.

Kerukunan hanya dihasilkan melalui persekutuan.  Mungkin kata-kata ini kedengarannya klise semata, namun apabila kita merenungkannya dalam konteks penerima surat Ibrani maka kita akan menemukan betapa sulit pelaksanaannya.  Penerima surat ini  adalah para orang-orang Ibrani (secara lahiriah disebut Israel oleh karena dilahirkan dari benih Yakub, yang mewarisi hukum Musa sebagai hukum Tuhan dan hidup dalam bahasa serta budaya Ibrani).  Mereka pertama-tama hidup dalam tradisi Torah (hukum-hukum Perjanjian Lama), selanjutnya mereka mempercayai dan menanti pengharapan hadirnya Mesias yang akan menyelamatkan mereka, serta menjadi pengikut Kristus oleh karena kasih karunia dalam iman yang mereka terima melalui kesaksian langsung dari para murid Yesus.  Namun demikian, keadaan menjadi sulit oleh karena mereka hidup bersama-sama dengan orang-orang lain yang juga menerima kasih karunia oleh karena percaya kepada Kristus sebagai Mesias oleh kesaksian para murid Yesus.  Kenapa dikatakan keadaan menjadi sulit?  Oleh karena orang-orang lain itu adalah orang-orang yang memang sama sekali asing bagi mereka: bukan hanya bahasa dan budaya, tetapi juga kepercayaan hidup yang lama.  Orang-orang Ibrani ini ‘dipaksa’ Allah untuk hidup rukun dengan orang Bar-bar yang kanibal; orang Yunani yang suka berpesta-pora bahkan melakukan seks secara menjijikan; orang-orang Romawi yang lebih menekankan pada hal-hal lahiriah dari pada hal-hal spiritual; orang-orang Mesir yang menyembah binatang dan menyukai sihir, dan lain sebaginya.  Hidup rukun oleh karena Allah mengasihi bani Israel sama seperti Ia mengasihi orang Bar-bar, Yunani, Romawi, Mesir yang telah percaya kepada-Nya dan mengalami penebusan dalam Kristus oleh karena kesaksian para murid Yesus.

Memang ada beberapa dari antara orang-orang Ibrani ini yang kemudian merasa unggul karena mereka terlahir sebagai umat Israel, oleh karena itu pada pasal-pasal sebelumnya dari kitab ini kita temukan kecaman dari penulis terhadap apa yang menjadi asaz-asaz kepercayaan Israel: Musa, Sabat, Imam Besar, Harun, Tabut Perjanjian, serta Bait Allah yang secara literal disebutnya hanya sebagai kiasan pada masa sekarang (9:9a) dibandingkan dengan Yesus Kristus.  Orang-orang ini merasa lebih unggul dari orang Bar-bar, orang Yunani, orang Romawi, dan orang Mesir, oleh karena mereka mengikuti hukum Musa, mempraktekan aturan sabat secara ketat, memperoleh kesempatan mempersembahkan korban penebus salah melalui imam besar, mewarisi ibadah yang dipraktekan dari Harun, memiliki tabut perjanjian sebagai pertanda kehadiran Allah serta Bait Allah sebagai lambang peribadahan yang benar tapi rupanya itu semua hanyalah kiasan, simbol, sebuah lambang.  Sebab ketika Kristus hadir, maka semua itu menjadi sia-sia.  Sama seperti ketika ketika orang Bar-bar, orang Yunani, orang Romawi, dan orang Mesir, yang dulunya telah hidup dalam kesia-siaan namun sekarang mengalami hidup yang baru oleh karena penebusan Kristus yang mereka percayai berdasarkan kesaksian para murid Yesus, demikianlah mereka telah sama-sama dipersekutukan dengan Allah.

Oleh karena apa yang telah Allah kerjakan baik bagi orang Ibrani dan juga kepada orang Bar-bar, orang Yunani, orang Romawi, dan orang Mesir, maka tugas selanjutnya dari orang-orang yang telah dipersekutukan oleh Allah dengan diri-Nya adalah menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah; meluruskan jalan dari kaki yang pincang agar tidak jatuh semakin dalam, tetapi menjadi sembuh (ay. 12-13).  Inilah kerukunan yang dihasilkan hanya dalam persekutuan.  Melalui persekutuan ini kita menciptakan kerukunan yang saling menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah, serta meluruskan jalan agar tidak ada seorang pun dari persekutuan ini yang kemudian jatuh semakin dalam dalam kepincangan hidupnya, melainkan menjadi sembuh.  Kerukunan bukan hanya berarti tidak ada perpecahan, tidak ada perselisihan, tidak ada keributan, namun kerukunan dalam persekutuan memiliki arti yang lebih dalam dari itu semua yaitu kesediaan diri untuk menjadi penguat dari tangan yang saudaranya lemah dan lutut sahabatnya yang goyah, serta pelurus dari kehidupan rekannya yang telah bengkok.  Inilah kerukunan yang unik yang hanya dihasilkan melalui persekutuan dalam tubuh Kristus.

Banyak usaha untuk menciptakan persekutuan.  Misalnya komunitas RT/RW, karang taruna.  Sekarang malah sudah muncul dengan nama-nama yang keren.  Misalnya kumpulan pengendara motor menyebut dirinya biker’s; kelompok pengendara sepeda bersatu dalam bike to work’s; para penyuka tontonan OVJ menyebut dirinya OVJ mania; para penyuka talkshow bukan empat mata menyebut dirinya ‘tukulers’;  bahkan dikalangan kampus ada kelompok untuk orang-orang yang Ip-nya anjlok yaitu ‘nasakom’ (nasib satu koma),  namun demikian apakah bedanya kelompok-kelompok ini dengan kita?  Mungkin kita akan berkata bahwa bedanya adalah bahwa persekutuan kita adalah persekutuan dalam kerukunan.  Jika hanya demikian, apakah bedanya kita dengan persekutuan arisan yang bahkan bisa rukun dalam perputaran uang?  Apakah bedanya kita dengan persekutuan pedagang kaki lima (sama-sama PKL-nya) yang bahkan rukun oleh karena memelihara persaingan sehat diantara mereka, bahkan mereka bisa begitu kompak saat mengalami penggusuran satpol pp?  Kita tidak menduga bahwa ternyata (mungkin) pemahaman kita selama ini tentang persekutuan masih belumlah seunik yang Alkitab sesungguhnya nyatakan kepada para penerima surat Ibrani.

Melalui bagian berikutnya (ay. 14-17) kita akan belajar bahwa kerukunan merupakan demonstrasi persekutuan.  Penulis kitab Ibrani membuka tesisnya dengan berkata (tafsiran langsung untuk ayat 14), ‘damai itu kejarlah engkau dengan seluruh pikiran dan pengudusan diri, oleh karena kecuali melalui anugerah itu tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah’.  Beberapa hal yang penting untuk kita simak, yaitu bahwa kerukunan yang kita pelihara dan kita bangun bukanlah sesuatu yang berasal dari dalam diri kita, yaitu sekedar tidak ada perpecahan, tidak ada perselisihan, tidak ada keributan, tidak ada amarah, tidak ada iri dan lain sebagainya, tetapi damai yang hanya tercipta oleh karena penebusan dosa yang dikerjakan oleh Kristus, oleh karena dikatakan bahwa itu adalah anugerah yang memungkinkan seseorang dapat melihat Allah.

Damai atau kerukunan itu adalah anugerah Allah yang Ia demonstrasikan saat Ia mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri-Nya, taat sampai mati bahkan mati-Nya pun di atas kayu salib (Fil. 2:7-8).  Secara sederhana, Ia adalah Allah sendiri namun telah ‘menanggalkan’ ke-Allahan-Nya untuk menjadi sama seperti manusia dalam diri Yesus Kristus, mengenakan kehambaan yang taat bahkan dalam ketaatan spiritual yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia manapun.  Hanya damai itulah yang menyebabkan Ia memandang manusia sebagai umat tebusan, oleh karena Ia telah membenarkannya dalam diri Yesus Kristus. Paulus berkata: ‘kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran (Rom. 6:18).  Inilah yang menyebabkan kita memiliki damai atau rukun yang berbeda dan unik.  Sekali lagi, inilah kerukunan yang unik yang hanya dihasilkan melalui persekutuan dalam tubuh Kristus.

Tugas kita adalah terus menerus sedemikian rupa memikirkan damai itu dan mengaktualisasikannya dalam kudusnya hidup, seperti yang dinyatakan oleh penulis kitab Ibrani tadi.  Pertanyaannya tentu saja adalah bagaimana caranya:  penulis kitab Ibrani lebih lanjut berkata: janganlah ada seorang pun yang keluar dari anugerah Allah (ay. 15) … atau dengan perkataan lain: janganlah ada seorang pun yang menjadi amoral atau cemar seperti Esau, seorang yang telah menjual kebenaran dirinya (ay. 16).  Apa maksud dari penulis Ibrani ini?  Pada bagian yang lain ia juga menulis: Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum (6:4-6).

Ayat-ayat ini memiliki pengertian yang sama, yaitu janganlah kita berpikir bahwa kita bisa menukar anugerah Allah dengan usaha kita sendiri.  Sama seperti keselamatan adalah murni anugerah Allah, maka demikianlah kita harus mendemonstrasikan kerukunan sebagai bagian dari anugerah Allah juga.  Jadi tugas kita dalam menciptakan damai yang seperti ini adalah seperti yang disampaikan oleh Paulus:  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri … (Fil. 2:5-7).

Dengan demikian, kerukunan dalam persekutuan kita menjadi unik oleh karena tidak ada yang menjadi manusia super diantara yang lain, tidak ada yang menjadi nomor satu dibanding yang lain, tidak ada yang lebih unggul, lebih pintar, lebih hebat, dll.  Inilah kebenaran yang telah dipraktekkan oleh Kristus yang hanya dapat ditiru oleh para pengikut Kristus.  Inilah kebenaran yang unik yang tidak dimiliki oleh persekutuan manapun di muka bumi ini.  Jadi mari kita hasilkan kerukunan yang merupakan demonstrasi dari persekutuan, dimana kita semua menaruh menaruh pikiran dan perasaan kita ke dalam pikiran dan perasaan Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri.  Untuk ketiga kalinya saya katakan, inilah kerukunan yang unik yang hanya dihasilkan melalui persekutuan dalam tubuh Kristus.  Hanya melalui ini kita bisa menciptakan kehidupan yang rukun dengan semua orang.  Tuhan kiranya menolong kita, Amin.

 

-apg-

Bebalnya Diri ini

Matius 16:1-4

 Setiap manusia memiliki mekanisme keamanan atau perlindungan diri; baik secara fisik maupun mental.  Secara fisik misalnya: saat kita sedang mengendarai motor dan melewati jalan berdebu maka kelopak mata akan menutup secara otomatis guna melindungi mata.  Kita pun akan takjub dengan bagian lainnya dari diri kita yang tercipta dalam mekanisme keamanan atau perlindungan diri.  Hal yang sama juga telah Tuhan ciptakan dalam aspek moral kita.  Adam dan Hawa diciptakan dalam benih ilahi yang memiliki kepekaan spiritual (Calvin menyebutnya sebagai sensus devinitas).  Kepekaan spiritual ini dianugerahkan Tuhan kepada seluruh manusia ciptaan-Nya, sebab kita tidak mungkin dapat melarikan diri dari fakta eksistensi Tuhan.  Kemanapun, kapanpun, bahkan dimanapun kita melarikan diri Tuhan tetap sanggup menjangkau manusia (Luther menyebutnya dengan coram deo), entahkan itu dengan anugerah kasih atau anugerah hukuman.

Bersamaan dengan benih ilahi berupa kepekaan spiritual, Tuhan juga memberikan benih manusiawi yaitu kehendak bebas.  Adanya kehendak bebas, maka kita menjadi ciptaan yang berbeda dengan ciptaan lainnya.  Kita memiliki kemampuan untuk mengamati, menganalisa, memilih, memutuskan bahkan mengikatkan diri pada keputusan tersebut.  Sehingga saat manusia memuji dan menyembah Tuhan pertama-tama oleh karena kita memiliki sensus devinitas atas Allah yang tak terhindarkan (coram deo), namun juga oleh karena kesadaran akan tanggung jawab hidup yang efektif dan bernilai (dalam pengertian yang sangat sederhana kita mengenalnya dengan insting).

Sayangnya, kehendak bebas yang seharusnya bersinergis dengan kepekaan spiritual justru menjerat manusia dalam kenikmatan badani belaka.  Ada orang yang dengan mudah menghancurkan karier masa depannya dengan pil extacy, meninggalkan keluarga yang bahagia demi kenikmatan sesaat dari sex, menjual harga dirinya demi alasan mendapatkan uang banyak secara mudah dan masih banyak lagi contoh-contoh yang terlihat disekitar kita.  Manusia kehilangan rasa malu ketika melakukan perbuatan tercela, semakin berani untuk melakukan pelanggaran, dan bahkan punya banyak sekali cara untuk membenarkan perbuatan tidak terpujinya.

Inilah yang sedang Tuhan Yesus katakan kepada para ahli Farisi dan Saduki: “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak (Mat 16:2-3 ITB).

Sering sekali kita mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tapi bukannya memilih yang baik dan menolak yang buruk kita malah melakukan sebaliknya.  Paulus, dalam pengalaman pribadinya berkata: “aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.  Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat  (Rom 7:14-15) … Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat  (Rom 7:18-19).

Lihatlah apa yang terjadi dengan Adam dan Hawa.  Mereka memiliki kelimpahan dalam segala hal: hidup dalam taman yang sungguh amat baik dalam keteraturan ciptaan Tuhan, memiliki kepercayaan diri yang paling maksimal, menikmati makan dan minum yang sehat serta memenuhi segala kebutuhan fisik mereka.  Namun demikian, mereka menukarkan itu dengan keinginan bodoh untuk menjadi sama seperti Allah.  Mirip halnya dengan Esau: menjadi pewaris hak kesulungan, tumbuh sebagai pria sejati, serta mendapat kasih dari ayahnya itu tidak serta merta membuatnya sanggup menolak tuntutan rasa laparnya.  Ia menukar itu semua dengan semangkuk sop kacang merah.  Apa yang terjadi dengan Daud?  Hidup sebagai orang yang paling dikasihi Allah, memiliki kuasa penuh atas kerajaan dan dunia, didukung oleh para pahlawan gagah perkasanya, dicintai oleh seluruh rakyatnya serta ditakuti para lawannya.  Justru saat ia sedang berada pada puncak kariernya, ia jatuh dalam perselingkuhan dengan istri pegawai setianya.  Masih banyak lagi contoh lainnya, yang pada akhirnya semua mengalami hukuman dari Tuhan.

Bagaimana dengan kehidupan kita?  Apakah kita telah cukup lebih baik?  Rasa-rasanya tidak.  Memang kita sudah mengalami keselamatan yang dari Allah, mendapat anugerah dalam pengorbanan Kristus, dimateraikan sebagai pewaris kerajaan Allah, dipersekutukan dalam persekutuan beriman, namun ternyata sering sekali kehendak bebas merusak kepekaan spiritual kita.  Jika demikian, bagaimana caranya kita bersikap: apakah lebih baik bagi kita untuk menjadi robot saja yang diprogram hanya untuk berkata: haleluya, Puji Tuhan!  Atau memprogram software yang membuat diri kita hanya melakukan kebaikan dan kebenaran belaka.  Tentu saja tidak.  Tuhan memberikan kepekaan  spiritual dan kehendak bebas agar kita menjadi manusia seutuhnya yang mandiri dan bertanggung jawab.

Paulus menolong kita secara praktis ketika ia berkata: “ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.  Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus (Ef 6:13-18).

Bukan hanya kita dan seluruh orang percaya yang saling mendoakan agar setiap kita sanggup hidup dalam kehendak bebas yang bersinergis dengan kepekaan spiritual tapi Tuhan Yesus terus berdoa bagi kita agar kita hidup dalam hidup yang lebih efektif dan mempermuliakan Tuhan.  Kiranya semakin hari kita menjadi semakin dewasa dan mampu menghilangkaan kedegilan kita dan menggantikannya dengan kehidupan yang bersinergis antara kehendak bebas dan kepekaan spiritual.  Tuhan menolong kita melakukannya, Amin.

 

-apg-

Tak Berhenti Menikmati Kemurahan Allah

Roma 12: 1

Saya percaya bahwa kita adalah penikmat kemurahan Tuhan, walaupun dalam level tertentu kita hanya mampu menikmatinya dalam bahasa fisik.  Dalam bahasa yang terungkap oleh mulut kita sering berkata: ‘saya hidup oleh kemurahan Tuhan’, dan memang kebanyakan orang percaya senang mendengarnya dan mungkin para rohaniawan akan memsejajarkan kita menjadi selevel dengannya.  Padahal sesungguhnya yang kita maksudkan dengan ungkapan: ‘saya hidup oleh kemurahan Tuhan’ adalah hidup dalam karier yang menanjak, tidak pernah sakit, tidak ada resesi keuangan dan hal-hal yang juga diimpikan oleh mereka yang diluar Kristus.  Apabila kita masih berkanjang dalam perspektif ini, maka sesungguhnya kita bukanlah penikmat Kemurahan Allah.  Kenapa demikian: ‘analogi anak kecil dengan mainan barunya’.  Seorang anak kecil ketika diberikan mainan yang sangat ia idamkan tentu saja akan memperlakukan mainannya tersebut dengan sangat istimewa, namun coba perhatikan apa yang terjadi dengan mainan tersebut lama setelah itu?  Rusak.  Inilah analogi penikmat kemurahan Tuhan dalam level kanak-kanak, selalu ingin yang baru sesuai dengan keinginan, sehingga Tuhan ditempatkan sebagai mesin ATM, yang selalu harus menghasilkan uang pada saat diinginkan.  Penikmat kekanak-kanakkan bukanlah penikmat sejati.

Paulus hendak membawa jemaat Roma pada level menjadi dewasa dalam menikmati kemurahan Allah: pertama, mampu hidup dalam perubahan yang dihasilkan oleh Roh Kudus; kedua, menikmati keseluruhan kasih karunia pelayanan yang Tuhan berikan guna melayani jemaat Tuhan (12:3-8); ketiga, menikmati kasih kepada sesama (12:9-21); keempat, menikmati hidup diperintah oleh pemerintahan dunia (13:1-7), dan seterusnya.  Pertanyaan pentingnya, apakah kita tetap bisa menikmati kemurahan Tuhan dalam konteks penolakan, kepahitan, disepelekan? Mungkin saya pun juga tidak siap, namun pada level inilah kita akan merenungkan Roma 12:1 ini.  Bagaimana caranya kita bisa menikmati kemurahan Tuhan sebagai seorang dewasa dan bukannya sebagai kanak-kanak?

Pertama, kemurahan Tuhan hanya bisa dinikmati orang yang mampu menaruh cinta pada-Nya ‘lebih dari yang lain’[1].  Mari memikirkan sebuah logika sederhana: semua orang menikmati kemurahan yang sama, matahari, bulan, bintang, hujan, alam namun hanya sedikit orang yang mampu menikmati ‘sesuatu’ di balik adanya matahari, bulan, bintang, hujan, alam.  Semua orang bisa menikmati karier yang menanjak, tidak pernah sakit, tidak ada resesi keuangan, namun hanya sedikit orang yang mampu menikmati ‘sesuatu’ dibalik karier yang menanjak, tidak pernah sakit, tidak ada resesi keuangan.  Mungkin sedikit orang bisa menikmati sakit, penderitaan, penolakan, kepahitan dan disepelekan, namun lebih sedikit lagi orang yang mampu menikmati ‘sesuatu’ di balik adanya sakit, penderitaan, penolakan, kepahitan dan disepelekan.  Dengan demikian benarlah apa yang dikatakan oleh C.S Lewis: ‘mereka yang tidak memiliki apa-apa tidak dapat memberikan apa-apa; mereka yang tidak pergi ke mana-mana tidak akan mempunyai teman seperjalanan’.[2]  Sederhananya: mereka yang tidak serius mencintai Tuhan, mereka juga tidak pernah secara serius berusaha menikmati keseluruhan kemurahan Tuhan.

Apakah kita mencintai Tuhan?  Kita pasti menjawabnya amin.  Ironisnya, inilah pertanyaan yang sama yang dulu pernah ditanyakan oleh Tuhan sendiri pada Petrus.  Apakah Petrus berani berkata amin (seperti kebanyakan kita)?  Tidak, sebab ia sadar bahwa cintanya akan Tuhan terus dibatasi oleh ketidakmampuan dan keterbatasan.  Namun apakah keterbatasan ini menyebabkan ia berhenti mencintai Tuhan? Tidak juga, sebab dari keterbatasan cintanya, ia mampu memberikan cintanya kepada Tuhan lebih dari yang lain, bahkan lebih dari kita semua (mungkin).

Sejarah menunjukan cinta akan Tuhan yang lebih dari yang lain, misalnya saja: Sung Siong Geh, Umur 18 tahun kuliah S1 Kimia di Wesleyan University di Ohio, S2 (9 bulan) dan S3 (18 bulan) di Ohio State University lulus dengan predikat summa cumlaude.  Ia kemudian membuat keputusan radikal dengan meninggalkan itu semua dan masuk sekolah teologi di Union Theological Seminary, hasilnya: dalam 193 hari ia berhasil membuat analisa eksegesa dari Kej. 1 – Why 22 (1.189 pasal) dengan 40 sudut pandang berbeda (justru dalam keadaan sakit).  Menjadi penginjil di China, Thaiwan dan Indonesia yg kemudian di kenal dgn nama sapaan: John Sung.  Kenapa John Shung mampu melakukannya?  Karena ia mengenal siapa yang Ia layani.  Bagaimana ia bisa melakukannya? karena ia mampu mencintai Tuhan lebih dari yang lain.

Inilah rahasia terdalam dari kemurahan Tuhan, adalah fakta bahwa kemurahan-Nya diberikan kepada semua manusia, namun disisi lain, kemurahan itu hanya bisa dinikmati oleh orang yang menaruh cinta pada-Nya lebih dari yang lain.  Jika demikian: apakah kemurahan Tuhan bersyarat?  Tidak, sebab Ia memberikannya pada seluruh ciptaan-Nya dan bahwa tidak ada kontribusi apapun dari manusia yang mensyaratkan dirinya sendiri sebagai penerima kemurahan Tuhan ini pun adalah kebenaran biblikal.  Namun kita juga harus ingat fakta bahwa Tuhan memberikan kemurahan kepada manusia adalah hal yang berbeda dengan menjadi manusia yang menikmati kemurahan Tuhan.  Paulus sendiri berkata: ‘malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus … (sebab), yang kukehendaki adalah mengenal Dia …’.[3]  Dari manakah kita mulai belajar mencintai Tuhan lebih dari yang lainnya?  C.S Lewis memberi analogi sederhana: ‘orang-orang yang bosan satu sama lain tentunya jarang bertemu; orang-orang yang tertarik satu sama lain, sering bertemu’.[4]  Pertanyaannya: kapan terakhir kali kita menikmati bertemu dengan Tuhan?  Kapan terakhir kali kita dari atas mimbar begitu berantusias menyuarakan dan mempercakapkan perihal kekasih kita tersebut?  Selama kita masih berkhotbah layaknya ‘pildacil’ sesungguhnya kita bukanlah penikmat kemurahan Tuhan.  Sebab kemurahan Tuhan hanya bisa dinikmati orang yang mampu menaruh cinta pada-Nya lebih dari yang lain.

Kedua, kemurahan Tuhan hanya bisa dimiliki oleh orang yang mampu melepaskan haknya lebih dari pada yang lain.  Berbicara mengenai hakekat kehidupan kita akan bertemu dengan berbagai pengertian:  Bagi para filsuf hakekat kehidupan adalah kesudahan/kematian, bagi para agamawan hakekat kehidupan adalah langkah menuju kehidupan lain, bagi para ekonom hakekat kehidupan adalah memberi makna atas sejumlah materi yang dapat diraih.  Bagi para scientific hakekat kehidupan adalah sebuah sikluas materi dan immateri.

Apa hakekat kehidupan menurut Paulus?  Jawabannya sederhana: ‘mempersembahkan’, namun dari jawaban sederhana ini terangkai kompleksitas dan keruwetan serta kemustahilan bagi kita manusia modern untuk melakukannya, yaitu mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini dalam keadaan hidup, kudus dan berkenan.  Kenapa menjadi sulit?  Sebab hanya dengan memiliki tubuh (σῶμα) ini kita bisa menunjukan eksistensi kita, kita bisa menikmati 1001 tawaran dunia, kita bisa membuat pilihan atas kebutuhan dan keinginan kita.  Hal-hal ini hanya merupakan sebagian kecil dari alasan-alasan kesulitan kita dalam mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini.  Atau mungkin kita akan berkata: saya sudah mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini tatkala saya mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan.  Jangan lupa bahwa dalam hal ini pun pemazmur telah jauh melampaui kita ketika ia berkata: ‘sekalipun dagingku (tubuh [σῶμα] ini) dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya’.[5]

Jadi apakah kita telah mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini?  Mungkin tidak, sebab seringkali kita hanya meminjamkan tubuh (σῶμα) ini untuk dipakai Allah; atau bisa saja kita hanya memerankan tubuh (σῶμα) ini dalam sebuah sandiwara rohani dalam komunitas hamba-hamba Tuhan.  Namun kita lupa bahwa hakekat hidup dalam kemurahan Tuhan adalah mempersembahkan.

Apa arti mempersembahkan?  Istilah yang digunakan adalah παραστῆσαι (verb infinitive aorist active from παρίστημι) yang berarti saya meletakkan diri saya dalam partisipasi intim dengan Tuhan[6] sehingga saya hanyalah menjadi miliknya yang utuh, yang dikhususkan dan yang disukai oleh Allah. Sederhananya: mempersembahkan berarti kita membiarkan Allah yang menjadi tuan yang berhak sepenuhnya atas hak kita.  Inilah persembahan sejati dari seorang hamba.  Apakah saya telah mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini?  Mungkin saja tidak.

Mempersembahkan tubuh (σῶμα) ini sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sadar bahwa kehidupan serta segala buah kehidupan adalah milik Tuhan yang dititipkan-Nya selama kita masih tinggal di dunia ini.  Sebuah puisi dari W.S Rendra yang berjudul : ‘Makna Sebuah Titipan’[7] menolong saya memahami kehidupan ini.

Sering kali aku berkata,

ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,

mengapa aku tak pernah bertanya,

mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?

Dan

kalau bukan milikku,

apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,

ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,

kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,

kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,
dan

kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :

aku rajin beribadah,

maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,

padahal tiap hari kuucapkan,

hidup dan matiku

hanyalah untuk menyenangkan Engkau…

 

Jadi mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan merupakan konsekuensi dari kemurahan Allah, sebab kemurahan Tuhan hanya bisa dimiliki oleh orang yang mampu melepaskan haknya lebih dari pada yang lain.

Ketiga, kemurahan Tuhan hanya bisa dimaknai oleh orang yang mampu mengambil tanggung jawab lebih dari pada yang lain.  Untuk apa saya dan saudara ada di dunia ini?  Tentu saja kita akan berkata bahwa kita ada disini untuk melayani Tuhan, untuk menyenangkan Tuhan, dan untuk banyak alasan dengan melibatkan nama Tuhan.  Semoga saja begitu.  Kita semua tahu bahwa kita sedang berada di tengah-tengah gerak zaman postmodernism, yang salah satu hasilnya adalah menciptakan perilaku narcissism.  Kenapa demikian, karena di zaman ini anda tidak akan pernah menjadi sesuatu yang dianggap jika tanpa relasi, prestasi dan popularity. Akibatnya, orang yang mengalami masalah dalam perilaku narcissism selalu merasa tidak mampu hidup tanpa pujian dan kekaguman dari orang lain,[8] ia menjadi sangat peka terhadap kekurangan dan cacat cela yang ada pada dirinya yang justru kepekaan yang berlebihan tersebut membuatnya berusaha menutupnya dengan cara yang tidak wajar yaitu dengan cara terus-menerus mencari penggemar dan pujian dari orang lain.[9]

Celakanya, Andre Bustanoby dalam risetnya menemukan bahwa banyak sekali orang Kristen yang memilih profesi menjadi hamba Tuhan oleh karena kecenderungan akan perilaku narcissism.[10] Kenapa demikian? Alasan utamanya adalah dengan jalan seperti itu ia bisa bersembunyi di balik simbol-simbol ilahi:  Menutup dirinya yang sebenarnya sakit dengan ‘fenomena’ otoritas ilahi, membangun kesetiaan pengikut pada dirinya untuk menutupi ketidak setiaan yang mungkin saja ia lakukan pada orang-orang terdekatnya.

Bagaimana mengatasinya?  Paulus berkata: itu adalah ibadahmu yang sejati.  Inilah pusat dari teologi Kristen.  Teologi yang tidak lai diartikan secara sederhana sebagai ilmu yang mempelajari tentang Tuhan melalui setiap gejala-gejalanya, namun harus sampai pada tahap teologi sebagai pertanggung jawaban iman.  Apa maksudnya?  Bahwa penyerahan diri kepada Tuhan berarti kesediaan mengambil tanggung jawab.  Bahwa setiap orang percaya yang sadar bahwa hidupnya adalah hasil dari kemurahan Tuhan, akan mencintai Tuhan lebih dari pada yang lain, akan secara sadar menyerahkan tubuhnya dalam hak penentuan dan penetapan Tuhan, tetapi juga yang terpenting adalah ia akan secara sadar aktif mengambil bagian dalam tanggung jawab, karena hari-hari setelah menerima kemurahan Tuhan merupakan hari-hari ibadah yang tidak pernah akan berhenti.

Tapi apa maksudnya: kemurahan Tuhan hanya bisa dimaknai oleh orang yang mampu mengambil tanggung jawab lebih dari pada yang lain?  Francis Chen[11] menolong kita memahami perkara sulit ini.  Bagi Francis Chen, justru keberhasilan dalam pelayanan merupakan kegagalan apabila ia hanya terfokus pada hal-hal yang bersifat kuantitas, baginya bertanggung jawab sebagai penerima kemurahan berarti membiarkan dirinya menjadi semakin tidak populer dan menjadikan nama Tuhan sebagai pribadi yang paling dekat dengan jemaat.  Bukankah kita sering menyanyikan ini?  Dia harus makin bertambah – ku harus makin berkurang, nama Yesus saja disembah ku di tempat paling belakang, dst.

Jadi apa yang harus kita lakukan?  Belajarlah mengambil bagian dalam tanggung jawab.  Ada banyak hal yang dapat anda kerjakan di dunia ini, entahkan anda sebagai pejabat negara (di daerah), pengayom masyarakat (dalam konteks Sitaro), dan lain sebagainya.  Tantangannya adalah apakah anda siap mengambil dan melaksanakan tanggung jawab itu dengan tanpa harus diketahui oleh orang lain bahwa anda sedang melakukannya?  Apabila anda berani melakukannya, maka anda sedang menikmati kemurahan Tuhan dalam cara yang unik yang berbeda dengan yang lain.  Ingatlah bahwa:

1.         Kemurahan Tuhan hanya bisa dinikmati orang yang mampu menaruh cinta pada-Nya lebih dari yang lain.
2.         Kemurahan Tuhan hanya bisa dimiliki oleh orang yang mampu melepaskan haknya lebih dari pada yang lain.
3.         Kemurahan Tuhan hanya bisa dimaknai oleh orang yang mampu mengambil tanggung jawab lebih dari pada yang lain.

 

[1] Lebih dari yang lain tidak bermaksud untuk kita saling berkompetisi dengan orang lain, namun untuk melihat yang lain itu justru dari dalam diri masing-masing kita.

[2] C.S Lewis, Empat Macam Kasih (Bandung: Pioner Jaya, 2010), 86.

[3] Filipi 3:8a, 10a.

[4] Lewis, Empat Macam, 104.

[5] Mazmur. 73:26.

[6] Diunduh dari http://concordances.org/greek/3844.htm pada Senin, 17 Oktober 2011.

[7] Diunduh dari http://www.puisi.org/2008/03/04/makna-sebuah-titipan/ pada Senin, 17 Oktober 2011.

[8] Otto Kernberg, ‘Why Some People Can’t Love’ dalam Psychology Today, Juni 1978, 55.  Seperti yang dikutip oleh Yakub Susabda, Pastoral Konseling, vol. 1: Pendekatan Konseling didasarkan pada Integrasi antara Psikologi dan Teologi (Malang: Gandum Mas, 2009), 21.

[9] Susabda, Pastoral, 21.

[10] Andre Bustanoby, ‘The Pastor and the Other Woman’ dalam Christianity Today, Agustus 1974, 7-10.  Seperti yang dikutip oleh Susabda, Pastoral, 21.

[11] Francis Chan is the founding pastor of Cornerstone Church in Simi Valley, CA, starting the church in 1994. In May 2010, he left Cornerstone to work directly in mission with the poor locally and internationally.  Diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Francis_Chan pada Senin, 17 Oktober 2011.  Pada akhirnya, ia undur dari pelayanan tersebut oleh karena ia mendapati bahwa jemaatnya lebih sering membicarakan perihal keberhasilan dirinya dibandingkan dengan Tuhan Yesus sendiri.

 

 

–apg–

Pengharapan di tengah Kesulitan

Yesaya 54:1-6

Hidup Kristen adalah pertarungan dalam pengharapan.  Pertarungan oleh karena sering sekali kita diperhadapkan dengan realita pergumulan bukan lagi memilih untuk beriman atau tidak, tetapi pertarungan bagaimana caranya agar iman itu efektif di tengah-tengah kesulitan. Sebuah arena pertarungan dimana Tuhan ‘secara sengaja’ menempatkan kita sampai pada ‘batas akhir’ kemampuan kita; bahkan terkadang Ia memasukan kita dari arena satu ke area pertarungan lainnya, yang dalam realita kerapuhan kemanusiaan kita diperhadapkan dengan kebingungan oleh karena kita tidak mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan pada kita.  Tidak jarang kita melihat ada orang beriman yang berjuang bertahun-tahun dengan sakit cancer dan akhirnya ia meninggal juga.  Dalam realita yang sulit dan tak terpahami seperti ini, apa sebenarnya pengharapan itu?  Bagaimana kita membahasakan iman kepada Tuhan, ketika iman itu sendiri kita jumpai dalam kegelisahan?  Apa yang hendak Tuhan singkapkan kepada kita, disaat Ia membawa kita dalam batasan akhir perjuangan iman?   Sering sekali kita mengakhiri perjuangan iman dengan kepasrahan bukan karena percaya tapi karena keputus asaan.  Namun, Yesaya menolong kita memahami bagaimana agar tetap berpengharapan walau di tengah kesulitan.

Nama kitab ini sesuai dengan nama nabi yang menyampaikan pesan  ilahi  di  dalamnya,  yaitu  Yesaeyah.  Walaupun  nama  ini  sudah  sangat  populer  sebagai nama kitab, namun nama Yesaya  sendiri di dalam Alkitab  seringkali memakai bentuk yang lebih  panjang,  yaitu  Yešaeyāhû.   Nama  Yešaeyāhû  memiliki  arti  “keselamatan  dari Yahweh” atau  “Yahweh  adalah  keselamatan”.  Dengan demikian tema pengharapan merupakan tema sentral dari kitab ini yang langsung dihubungkan dengan pribadi Mesias yang akan datang dan menderita sebagai ganti umat-Nya (Yes. 53:4-6).  Dua prinsip penting berkenaan dengan aspek pengharapan dalam kitab Yesaya dapat dilihat sebagai berikut:

1.   Pengharapan harus dilepaskan dari jangkauan akali.

Ayat 1-4 sering sekali diartikan dalam batasan akal.  Membaca ayat 1-4 ini sering diartikan sebagai (ay. 1, 4) realita orang yang mandul kemudian dilepaskan kemandulannya oleh Tuhan hingga ia memiliki banyak anak, dan memang banyak bukti yang bisa kita ambil dari dalam Akitab, misalnya: Sarah, Ribka, Elisabeth dan lain-lain; (2, 3) realita bahwa kita akan menjadi orang-orang penting dan akan mendapatkan posisi karier yang terus menanjak, misalnya: Yusuf, Yakub, Daud dan lain-lain.  Memang tafsiran itu tidak salah, namun apabila diperhatikan dalam keseluruhan kitab Yesaya, maka bukan itu maksud dari nabi Yesaya.  Dan sesungguhnya bukan pengharapan seperti itu yang sedang Tuhan janjikan kepada Israel dan juga kepada kita saat ini.  Pengharapan yang Tuhan janjikan adalah pengharapan yang jauh diluar batas-batas akali, sebab hanya dengan cara itulah kita bisa mengalami pengharapan yang unik, yang ada dalam kitab Yesaya dan bahkan yang hanya ada dalam pengalaman iman kita bersama dengan Tuhan.  Pengalaman seperti ini tidak akan dijumpai dalam diri orang yang tidak mengenal Yesus secara pribadi.Ayat 1-4 harus dipahami dalam terang ayat 5, bahwa pengharapan yang dimaksud Tuhan adalah pengharapan yang sifatnya spiritual.  Pengharapan yang memungkinkan kita mengalami persekutuan terus menerus dengan Tuhan.  Pengharapan yang membawa kita dalam persekutuan dan pengenalan yang dinamis dengan Tuhan.  Pengharapan yang bahkan mengikat kita menjadi milik Allah yang telah menebus kita.

Contoh sederhana dari kebenaran ini dapat kita temukan dalam kitab Rut.  Saat Rut menjadi janda dan ikut serta Naomi kembali ke Betlehem, maka ada hukum yang berlaku yaitu Rut harus menikah (ditebus) oleh kerabat terdekat mereka agar nama, status, dan warisan keluarga tidak jatuh pada orang lain.  Boas pun menjumpai seorang kerabat yang lain dan akhirnya menebus Rut bagi dirinya (baca Rut 4:5-17).

Sebagai orang-orang yang telah ditebus Tuhan menjadi milik bagi-Nya, maka pengharapan kita bukan lagi pengharapan yang sifatnya bendawi, dan temporal; namun pengharapan kita adalah pengharapan spiritual dan keintiman dengan-Nya

2.   Pengharapan harus diselaraskan dengan rancangan ilahi.

Dalam bahasa kita harapan sebenarnya sering diartikan sebagai keinginan atau kebutuhan.  Ketika kita berkata misalnya: saya beriman memiliki pekerjaan tetap agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga, maka sebenarnya yang dimaksud adalah oleh karena kebutuhan keluarga yang sudah tidak teratasi dengan penghasilan  saat ini, maka kita ingin agar penghasilan kita bertambah atau paling tidak tetap pada setiap bulannya.  Dan rupanya dalam bahasa nabi Yesaya, keinginan atau kebutuhan tidak bisa dibahasakan sebagai pengharapan atau sikap beriman.  Sebab dalam pemikiran nabi Yesaya, pengharapan itu adalah saat kita membiarkan diri kita diselaraskan dengan tujuan Allah.  Memang kedengarannya pasif, namun sesungguhnya yang sedang dimaksud oleh nabi Yesaya adalah sikap menanti dengan sabar, yang terus bergumul dan mencari kehendak dan rancangan Tuhan dalam hidup kita.  Dengan demikian, pengharapan yang dimaksud oleh Yesaya adalah beriman dalam keaktifan menanti, taat, serta membuka indera rohani kita terus menerus untuk mencari tau apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita.  Pengharapan ini terus bertanya apa tujuan yang hendak Tuhan capai melalui hidup saya.  Tuhan Yesus secara jelas berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

(Mat 11:28-30), sering sekali kita membaca ayat tersebut hanya pada ayat 28 aja dan kemudian kita berhenti seraya berkata: ‘cukup, ayat ini saja yang Tuhan ingin sampaikan pada saya’; justru kita tidak akan mengalami realita iman yang bertumbuh, dan sangat mungkin Tuhan akan membawa kita pada arena perjuangan iman yang berikutnya hingga akhirnya kita dengan rela mengaminkan ayat 29-30.  Dalam konteks pengharapanlah kalimat tersebut disampaikan oleh Tuhan Yesus.  Pengharapan agar kita secara aktif menanti, taat, serta membuka indera rohani kita terus menerus untuk mencari tau apa yang ingin Tuhan kerjakan dalam hidup kita.

Pengharapan yang sejati adalah saat kita mampu menangalkan keinginan pribadi dan menggantikannya dengan keinginan Tuhan.  Prinsip ini mudah untuk diucapkan, apalagi di dengar, namun rupanya butuh iman yang aktif menanti, taat, serta membuka indera rohani agar kita  tau apa yang Tuhan inginkan dari hidup kita.

 

 

 

–apg–

Kuasa Yesus

Markus 2:1-5

Pada saat ini dalam konteks kita, pertanyaan-pertanyaan mengenai Yesus dan kuasa-Nya bukanlah sesuatu yang menggelisahkan lagi oleh karena sejak beberapa abad yang lalu, para teolog telah berhasil menelusuri fakta dan data mengenai Yesus dan kuasa-Nya, mereka pun telah secara bijak menyusunnya dalam banyak literatur.  Kalaupun saat-saat ini ada bermunculan tulisan-tulisan yang ‘kembali’ meragukan mengenai Yesus dan kuasa-Nya, maka bahkan seorang ‘anak sekolah minggu’ pun sudah bisa berapologi secara baik dan benar (dalam fase perkembangan berpikirnya).

Ketika ditahun baru ini kita bersama-sama merenungkan pembacaan Alkitab yang terambil dari Markus 2:1-5, mengenai sebuah kisah spektakuler dimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh,  Entah sudah beberapa kali dan mungkin bahkan sudah ratusan kali kita membaca dan merenungkan bagian ini dan bukankah kita sudah sama-sama bersepakat bahwa Yesus adalah Allah yang datang dari Sang Bapa sebagai Putra Tunggal, yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara yang bernama Maria, seorang keturunan raja Daud, raja besar itu.  Mengenai kuasa-Nya bahkan sudah merupakan sesuatu yang asing bagi kita:  Ia telah bangkit, menang atas maut, naik ke surga, duduk disebelah kanan Allah sebagai pribadi yang berkuasa penuh atas langit dan bumi, dunia dan sorga, masa lalu, masa kini, masa yang akan datang, bahkan dalam kuasa-Nya itu kita mendapatkan pengampunan dosa, kebangkitan daging dan hidup yang kekal.  Kita kemudian rutin mengucapkannya dalam kalimat-kalimat pengakuan iman kita pada setiap ibadah-ibadah kita.

Jika demikian, mengapa kita perlu merenungkannya sekali lagi?  Ya, memikirkannya secara serius di awal tahun baru ini.  Mengapa?  Justru ketika kita telah ‘terbiasa’ dengan hal-hal ini dan tidak lagi mampu merasakannya sebagai sesuatu yang wah, maka barangkali ini salah satu alasan mengapa kita perlu merenungkannya.  Saya memiliki analogi sederhana:  putra saya, begitu excited dengan boneka angry bird-nya.  Ia bahkan sudah menguasai beragam trik di game angry bird-nya.  Namun apa yang terjadi selanjutnya dengan boneka angry bird-nya setelah sekian lama dimainkan?  Boneka itu sudah dilemparkannya ke atas genteng.  Marilah kita merenungkan sekali lagi mengenai Yesus dan kuasa-Nya dengan kesadaran diri bahwa kita adalah manusia rapuh yang mudah mengabaikan, melupakan bahkan menyepelekan Yesus dan kuasa-Nya sampai kita kemudian mengalami pergumulan berat dan menjadi teringat akan Dia.  Mario Teguh pernah berujar demikian: ‘bukan masalah jika sang bos tidak ‘direken’ oleh kita namun adalah bahaya besar jika kita sudah tidak ‘direken’ oleh sang bos, sebab itu artinya sebentar lagi kita akan dipecat.  Semoga saja hal seperti itu tidak terjadi dalam keintiman kita dengan Tuhan.  Jika demikian, kesadaran seperti apakah yang harus kita miliki agar kita bisa terus menghidupkan Tuhan Yesus dan kuasa-Nya dalam kehidupan kita?

Mari renungkan kalimat ini:  Tuhan Yesus sangat berkuasa namun sering sekali Ia ingin menjadikan kita sebagai saluran kuasa-Nya bagi orang lain.  Penulis Injil Markus secara tepat membuka kisah ini.  Ia mencatat bahwa setelah beberapa waktu lamanya, Tuhan Yesus kembali mengunjungi Kaparnaum dan berita ini segera tersiar ke seluruh penjuru kota.  Begitu riuh suasana kota itu, terutama sebuah rumah yang dijadikan penginapan oleh Tuhan Yesus.  Penulis Injil Markus mendemonstrasikannya dengan menulis demikian: ‘orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak’.  Bayangkanlah seperti keriuhan di rumah ponari yang heboh oleh karena batu ajaibnya.  Semua orang datang untuk kepentingannya sendiri, atau paling tidak untuk keperluan keluarga dekatnya.  Apabila Tuhan Yesus datang saat ini menghadirkan kuasa yang sama, maka mungkin kita akan melakukan hal yang sama: berkerumun dan membawa segenap masalah kita dan keluarga kita dengan menyediakan sedikit tempat (atau mungkin saja tidak) bagi pergumulan orang lain.  Itulah kebiasaan kita ketika berinteraksi dengan Tuhan Yesus dan kuasa-Nya.

Hari ini, Tuhan memberi penyingkapan lain mengenai Diri dan kuasa-Nya.  Injil Markus menceritakan mengenai 4 orang yang membawa seorang lumpuh.  Mereka berusaha melewati kerumunan orang, hingga akhirnya menjebol atap rumah dan menurunkan si lumpuh dari atap dan Yesus menghargai iman keempat orang ini dengan jalan menyembuhkan si lumpuh.  Si lumpuh mendapatkan kesembuhan dan apa yang di dapat oleh 4 orang ini?  Mungkin kita akan berkata bahwa mereka tidak mendapat apa-apa, sebab hingga akhir cerita keempat orang ini sudah tidak disinggung lagi, bahkan oleh si lumpuh.  Namun Markus telah mencatat sesuatu yang penting pada ayat 5, yaitu Yesus melihat iman mereka.  Menarik disini bahwa ungkapan Yesus melihat, tidak dapat dipahami sesederhana ungkapan: saya melihat, pendeta melihat, mejelis melihat, atau jemaat melihat, sebab melihat disini dari bahasa Yunani ‘horao’ (ὁράω) yang lebih berarti melihat dengan teliti atau menyelidiki.  Yesus melihat hingga ke motivasi mereka, oleh karena Ia tahu bahwa mereka bukan sok pahlawan;  Yesus melihat hingga kedalam hati mereka, oleh karena mereka rela mengabaikan kepentingan mereka demi si lumpuh;  Yesus melihat hingga mengetahui apa yang mereka pikirkan, bahwa melalui kesembuhan si lumpuh Allah akan dipermuliakan.  Pertanyaannya adalah: ketika Tuhan Yesus hadir saat ini dan memperlihatkan kuasa yang sama, apakah Ia akan melihat itu dalam diri kita?  Ingat dan sadarilah bahwa Tuhan Yesus sangat berkuasa namun sering sekali Ia ingin menjadikan kita sebagai saluran kuasa-Nya bagi orang lain, terutama agar Ia dapat melihat dengan ‘horao’ (ὁράω) kepada kita.

Mari kita renungkan kalimat di atas dalam kesadaran yang benar: Tuhan Yesus sangat berkuasa namun sering sekali Ia ingin menjadikan kita sebagai saluran kuasa-Nya bagi orang lain.  Tuhan Yesus sangat ingin menjadikan kita sebagai saluran kuasa-Nya, namun keinginan-Nya tersebut diwujudkan melalui sebuah tatapan tajam tepat ke mata kita masing-masing.  Tatapan mata yang teduh, penuh kasih, namun berkuasa.  Berkuasa hingga Ia mampu melihat motivasi kita yang rindu dipakai oleh-Nya, bahwa kita datang dengan motivasi yang benar dan bukan unjuk gigi saja atau sok menjadi pahlawan kesiangan bagi gereja-Nya ini;  Ia berkuasa hingga mampu melihat kedalam hati kita, hati yang tulus, yang rela mengabaikan kepentingan pribadi demi kepentingan keseluruhan jemaat sebagai satu kesatuan tubuh Kristus;  Ia bahkan berkuasa hingga Ia mengetahui secara pasti apa yang kita sedang pikirkan dan rencanakan, yaitu untuk menjadikan Allah semakin dipermuliakan melalui setiap program dan pelayanan yang kita buat di gereja-Nya ini.

Namun, apa yang terjadi ketika ternyata pada saat Tuhan Yesus yang sedang melihat kita dengan tatapan mata yang teduh, penuh kasih, namun berkuasa ternyata Ia tidak menemukan hal-hal itu dan malah sebaliknya melihat seperti yang terjadi dengan kelanjutan kisah Injil Markus: 6Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 7“Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”  (Mar 2:6-7 ITB).  Yesus pun rupanya melihat mereka, namun meresponinya secara berbeda.   Kita pun telah mengetahu akhir dari kisah tersebut.  Namun demikian, hal yang harus kita waspadai adalah ketika kita tidak lagi menjadi seperti empat pria misterius ini, maka tidak lama lagi Yesus dan kuasa-Nya akan kita tinggalkan di atap yang telah dilubangi oleh empat pria misterius ini.  Ya, kita akan mencampakkannya di atap untuk menemani boneka angry bird-nya, putra saya.  Kiranya Tuhan menolong kita untuk mampu menjadi seperti ke empat pria misterius ini, yaitu menjadi saluran kuasa Tuhan Yesus bagi orang lain.

 

–apg–

Makna Sebuah Titipan

– W.S Rendra –

Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan
kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku, Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

Doa St. Fransiskus dari Assisi

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai.

Bila terjadi kebencian,jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Tuhan,
semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
memahami daripada dipahami,
mencintai daripada dicintai.
Sebab dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup
selama-lamanya,

Amin

Cara Mengungkapkan Cinta

Kidung Agung 6:1-3

Pendahuluan:

Satu-satunya bahasa yang dapat diterima oleh keseluruhan manusia walau berbeda bangsa, suku, ras, usia, ideologi bahkan agama adalah bahasa cinta.  Bahasa cinta mempertemukan, mempersatukan, bahkan mempereratkan.  Bahasa cinta adalah bahasa tindakan dan ia tidak pernah bisa berdiri sendiri tanpa adanya orang lain.  Bahasa cinta sanggup menggerakan orang untuk melakukan pengorbanan apapun yang ia miliki bagi orang lain.  Bahasa cinta dapat membuat seseorang menjadi kuat memperjuangkan hidup ketika ia diambang kematian.  Itulah bahasa cita yang kita kenal.  Namun, rupanya bahasa cinta dapat juga mejadi sangat merusak.  Demi cinta terhadap ideologi tertentu seorang yang lemah lembut dapat berubah menjadi seorang yang fatalis.  Demi cinta terhadap keyakinan ajaran agamanya, seseorang dapat menjadi seorang teroris.  Demi cinta terhadap kekasih, tidak jarang seorang muda menjadi egois.  Jadi bahasa cinta dapat dengan mudah menjadi bahasa yang merusak apabila kita keliru mengungkapkannya.

Tema renungan saat ini sangat menarik yaitu: cara mengungkapkan cinta.  Mengapa penting bagi kita untuk secara serius mengetahui cara-cara yang tepat untuk mengungkapkan cinta?  Karena cara pengungkapan bahasa cinta yang salah dapat menyebabkan seseorang yang lemah lembut menjadi fatalis, teroris dan egois.  Sebaliknya, cara yang tepat dalam  mengungkapkan cinta bukan saja membuat cinta itu terpelihara awet, tetapi juga menjadi cinta yang unggul yang membuat hidup manusia semakin efektif.

Kitab Kidung Agung sering sekali dipahami sebagai kitab yang seronok, sehingga menjadi tabu untuk dibicarakan.  Ada lagi yang menyebutnya sebagai kitab khusus bagi suami istri.  Ada juga yang bahkan merohanikannya secara ekstrem sehingga kitab Kidung Agung adalah bahasa simbolik yang menjelaskan hubungan Gereja dengan Kristus.  Namun demikian, bukan berarti itu salah, karena itu pun adalah perspektif penafsiran Alkitabiah terhadap kitab Kidung Agung.  Tujuan utama kitab kitab Kidung Agung adalah mengekspresikan cinta secara jujur, terbuka, penuh hasrat/antusias dan sebagai ekspresi manusiawi terhadap rasa cinta yang muncul.  Jadi, kitab Kidung Agung sebenarnya merupakan ekspresi normal yang muncul saat cinta itu dihargai, dijunjung tinggi dan dirayakan dalam kebersamaan pribadi yang dipersatukan Allah oleh cinta.  Melalui kitab Kidung Agung ini kita akan belajar cara mengungkapkan cinta secara tepat, benar dan Alkitabiah.

Kitab Kidung Agung merupakan sastra bersahut-sahutan perihal cinta antara seorang pria dan wanita.  Menurut tradisi, kesusasteraan ini didedikasikan kepada Salomo, seorang yang penuh hikmat, yang juga memiliki pengalaman yang personal mengenai cinta.  Sehingga, beberapa penafsir cenderung melihat kitab Kidung Agung sebagai buah karya dari Salomo.  Namun demikian, sampai saat ini hal tersebut masih misterius.  Yang terpenting adalah kita mampu menangkap pesan yang hendak disampaikan melalui kitab ini.  Melalui kitab ini, kita belajar cara mengungkapkan cinta secara benar, yaitu:

Prinsip pertama yang harus dipahami mengenai cara mengungkapkan cinta adalah cinta harus ditumbuhkan dalam saling percaya.  Rasa percaya ini bukan saja menghubungkan antar pribadi, namun dalam kitab Kidung Agung memberikan penekanan lebih pada pujian kepada Tuhan.  Ekspresi tersebut dapat dilihat dalam sepanjang kitab ini, yaitu ketika keduanya saling memuji menggunakan kata ‘bagaikan’.  Misalnya harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu (1:3); bagaikan merpati matamu (4:1); rambutmu bagaikan kawanan kambing (6:5) dan lain sebagainya.  Dengan demikian, rasa saling percaya disini adalah saling percaya dalam kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam sebuah hubungan.  Kehadiran Tuhan yang harus di puja dan dihormati.  Kehadiran-Nya yang menghadirkan ucapan syukur, sekaligus rasa saling percaya antar pribadi yang dihubungkan oleh cinta tersebut.  Prinsip ini dapat ditemukan pada pasal 6:1, bahwa kemanapun perginya sang jelita bahkan diantara wanita-wanita lainnya, maka itu tidak akan menggoyahkan pandangan sang kekasihnya pada wanita lain.

Prinsip kedua mengenai cara mengungkapkan cinta adalah bahwa cinta itu dirayakan dalam hubungan saling memiliki yang membangun bagi keduanya.  Sederhananya adalah tidak ada pihak yang dirugikan atau diuntungkan dalam sebuah hubungan.  Prinsip ini jelas nampak pada ayat 2 dan 3.  Ada frase yang diulang yaitu: ‘untuk menggembalakan domba’, frase ini sebenarnya hendak menunjukan pada sisi keuntungan yang dihasilkan oleh hubungan dan rupanya keuntungan itu dinikmati secara bersama dan adil oleh keduanya sebab diapit oleh frase ‘aku kepunyaan kekasihku dan kepunyaanku kekasihku’.  Dengan demikian, cinta itu rupanya harus diungkapkan dan dirayakan dalam hubungan yang saling memiliki dan membuat keduanya berelasi secara sehat dan membangun.

–apg–